BAB VI

U

dara pagi begitu menusuk. Butir kecil embun pagi membasahi daun-daun hijau. Bunga-bunga terlihat jelas tengah bermekaran. Kupu-kupu terbang riang gembira. Namun, bagi seseorang pagi yang indah itu hanyalah kekelaman. Baginya tak ada kilauan cahaya matahari. Tak ada indahnya syap kupu-kupu.

Ya, Afiksi tak dapat melihat semua itu. Kebutaan akibat kecelakaan itu mengakibatkan ia tak mempu lagi menikmati indahnya alam sang pencipta. Namun, ia tetap tak patah semangat. Baginya Andra yang selalu akan berada disampingnya sudah cukup untuk menyinari hatinya. Cukup untuk indahkan dunia kelamnya.

Afiksi tak pernah tahu bahwa Andra tak akan pernah lagi hadir dalam hidupnya. Sekalipun ia bisa melihat, namun wajah Andra tak akan lagi terlintas di mata indahnya. Teman-temannya sepakat untuk tak memberitahukan meninggalnya Andra pada Afiksi. Mereka tahu bahwa Afiksi akan sangat terpukul dengan kabar kepergian Andra. Untuk itu mereka merahasiakan semuanya itu. Mereka hanya memberitahukan bahwa Andra dirawat di rumah sakit yang lain.

Dari kejauhan seorang pria menatap pada Afiksi. Ia melihat Afiksi yang tengah duduk dikursi roda di taman bunga rumah sakit itu. Rasa iba pria itu muncul ketika melihat seorang gadis muda yang buta. Namun rasa kagum pun menggelayut dipikirannya. Seorang wanita cantik, meskipun dalam keadaan buta tetap tabah menghadapi cobaan yang tak pernah diharapkan oleh orang lain.

Perlahan langkah kaki pria itu menghampiri Afiksi. Meski keraguan terpancar di wajahnya, ia berusaha meyakinkan diri untuk mendekati Afiksi.

“Taman bunga begitu indah” Sapanya pada Afiksi.

“Namun keindahan bunga itu berupa kekelaman bagiku” Jawab Afiksi sambil terkejut setelah mendengar suara seorang laki-laki menyapanya.

“Bunga indah bukan karena warnanya. Namun keharuman dan kesejukanlah yang membuat berbeda dengan benda lain yang memiliki warna yang sama dengan warna bunga-bunga itu”

Afiksi terdiam. Ia seolah mengenali suara itu. Suara yang begitu akrab ditelinganya. Suara yang selama ini menemaninya. Suara yang begitu menentramkan hatinya.

“Andra, apakah itu kamu?” Tanya Afiksi.

Pria itu hanya terdiam. Ia tak ingin membuat Afiksi kecewa karena mengetahui bahwa dirinya bukanlah Andra.

“Aku pergi dulu” Jawab Pria itu.

Kemudian Pria itu langsung pergi meninggalkan Afiksi sendiri di taman bunga itu. Ia menyadari kepergian pria itu. Namun Ia tak mampu menghalangi kepergiannya, karena Afiksi masih tersentak dengan suara itu. Ia berusaha mengingat kembali suara siapakah itu. Suara itu sangatlah mirip dengan suara Andra.

Pria itulah yang membawa Andra dan Afiksi ke rumah sakit. Ia baru saja datang dari luar kota. Saat dalam perjalanan ia melihat kejadian kecelakaan itu. Setelah mengetahui bahwa korbannya adalah Afiksi, ia langsung membawa Andra dan Afiksi kerumah sakit.

Ia juga menghadiri pemakaman Andra. Disana ia bersama Ibu Afiksi yang kemudian mengenalkannya pada Rama. Dan Rama lah yang menceritakan semua hal tentang Andra dan Afiksi.

“Jadi kau kekasih pertama yang diceritakan oleh Afiksi itu?” Kata Rama.

“Ya, nama q Gara. Gara Zulian” Jawab Pria itu.

Gara, wajahnya tak terlalu mirip dengan Andra. Namun, bagi orang yang mengenal dekat keduanya, tentu akan mengatakan bahwa keduanya sangatlah mirip. Caranya berbicara, tersenyum, tatap matanya, dan caranya bersikap sangatlah mirip dengan Andra. Dan hal itulah yang membuat Afiksi jatuh cinta pada Andra.

Meski tak diakuinya, namun kemiripan Andra dengan Gara telah membuat Afiksi jatuh cinta padanya.

Selama ini Andra harus tinggal di kota yang berbeda. Ia adalah keturunan darah biru. Karena itu, ia telah dijodohkan sejak ia masih kecil oleh kedua orang tuanya. Tak ingin Afiksi kecewa, ia pun pergi meninggalkan Afiksi tanpa sepengetahuan Afiksi.

Namun kini ia telah kembali. Wanita yang dijodohkan padanya ternyata juga mencintai orang lain. Karena itu, kedua keluarga itu sepakat untuk membatalkan perjodohan itu. Untuk itu, Gara datang ke kota tempat tinggal Afiksi. Ia berharap bisa kembali melihat cintanya yang sempat tertutup kabut.

“Aku banyak mendengar tentang kau dari Afiksi dan ibunya. Setelah kepergianmu, karena adanya Andra Afiksi telah berhasil melupakanmu. Dan sekarang, baginya Andra adalah orang yang jauh lebih penting dari pada kamu. Aku yakin kamu mengerti maksudku” Terang Rama.

“Tentu saja. Aku datang kesini untuk menebus kesalahanku pada Afiksi di masa lalu. Aku tak akan lagi membuatnya meneteskan air matanya lagi” Kata Gara.

Deru angin mengiringi langkah kaki pengantar jenazah meninggalkan tempat pemakaman Andra. Tetes-tetes air mata kian menjauh dari tempat Andra berbaring untuk selamanya. Taburan bunga diatas gundukan tanah itu menjadi pemberian terakhir dari orang-orang yang begitu menyayangi Andra.

Namun, bagi seseorang Andra masih ada di hatinya. Baginya Andra tak pernah mati. Tidak hanya sebagai kata-kata indah, namun karena ia memang tak pernah mengetahui bahwa orang yang penting dalam hidupnya telah tiada.

Afiksi, kini hanya menjadi seorang gadis buta yang duduk dikursi roda. Tatapan mata indahnya kini hanya terbalut perban putih. Senyum manis kini hanya sedikit saja menghiasi bibir merah mudanya. Dan kata-kata lembutnya kini jarang terdengar karena Andra yang selama ini menjadi teman hidupnya harus digantikan oleh tongkat hitam yang selalu disisinya. Meski ia tak pernah tahu bahwa Andra tak akan pernah kembali untuk menemuinya.

Suatu hari ia pernah datang ke sekolah untuk memberikannya izin tak mengikuti kegiatan belajar mengajar hingga ia sembuh dari kebutaanya. Namun seolah kehadirannya tak diharapkan oleh teman-temannya. Beberapa Siswi seakan menyalahkan Afiksi atas kecelakaan yang menimpa Afiksi dan Andra. Sedangkan siswa-siswa yang dahulu begitu memujanya, kini hanya memandang rendah dirinya.

Perban putih tak hanya menutupi matanya, namun kecantikannya juga tertutup seiring kebutaan itu. Keterbatasan melihat juga membuatnya sulit untuk kembali bersosialisasi dengan siswa-siswi di SMA itu. Ia merasa kecewa karena siswa-siswi itu mau berteman hanya karena kecantikannya.

Namun semua itu berbeda dengan Nita, Rama, Rio, Nopri, Widya dan Tiara tetap setia bersahabat dengannya. Bagi mereka persahabatan bukanlah mengenai raga, namun ikatan jiwa lah yang menjalin persahabatan.

BAB V

K

ini siang telah berganti malam. Terik matahari berganti hangatnya rembulan. Sinar terang berganti kelam. Mekar bunga menjadi layu.

Raungan sepeda motor Andra memecah kesunyian. Hingga suara itu terhenti seiring sampainya ia di depan pagar warna merah sebuah rumah megah. Sejenak ia berfikir apakah benar ini rumah yang ia tuju. Rumah yang telah mengundangnya makan malam. Dalam lamunannya ia terkejut saat suara lantang seorang pria berbadan tegap memanggilnya yang ternyata adalah satpam penjaga rumah itu.

“Kamu mau cari siapa?” Tanya satpam itu.

“Echm..itu..s.s.saya ingin bertemu dengan Afiksi” Jawabnya gugup.

“Och. Nona Afiksi sudah menunggu dilantai dua. Silahkan masuk” Kata satpam itu lagi.

Andra masuk dan memarkirkan sepeda motor kesayangannya didekat pos satpam. Ia berjalan melihat suasana sekelilingnya. Ia tetap berfikir benarkah Afiksi tinggal di rumah semegah ini. Afiksi yang ia kenal di sekolah adalah seorang yang sederhana, penampilannya memang rapi dan menarik tapi sedikitpun tak menunjukkan kemewahannya, bahkan sikapnya yang mau berteman dengan siapa saja benar-benar tak menunjukkan sikap seorang hartawan yang biasanya sedikit sombong.

Ia berjalan menaiki tangga marmer putih yang cemerlang itu. Bahkan ia bisa melihat wajahnya yang terlihat gugup tercermin dilantai itu. Di antara tangga itu berdiri sepasang guci keramik besar. Dan sebuah televisi layar datar besar terpajang diruang tamu itu dengan berbagai lukisan abstrak yang menghiasi sekeliling dinding ruangan itu. Namun satu hal yang ia merasa aneh. Di rumah sebesar dan semegah itu tapi tak ada seorangpun yang ia temui selain satpam yang bertugas menjaga gerbang rumah tadi.

Kini ia sampai di lantai kedua. Disana telah menunggu seorang wanita dengan gaun putih yang tengah berdiri didekat jendela melihat indahnya bintang yang bertabur malam itu. Sejenak Andra berhenti menatap wanita cantik itu sambil memuji kecantikannya malam itu.

“Selamat malam, Afiksi. Maaf jika aku terlambat.” Tegurnya lembut.

“Selamat malam, Andra. Kamu datang lebih awal. Sekarang baru jam 18.55, lima menit lebih awal dari perjanjian kita” Kata Afiksi membalikkan tubuhnya.

“Aku berusaha agar kau tidak kecewa” Kata Afiksi.

Keduanya duduk di sebuah meja makan yang tak cukup besar. Di meja bundar itu telah terhidang berbagai makanan yang terlihat masih hangat dan beberapa minuman yang tidak terlalu dingin. Suasana malam yang dingin dihangatkan oleh lilin yang tersusun rapi malam itu.

“Afiksi, aku ingin menjelaskan padamu tentang surat itu” Kata Andra.

“Tentang itu aku sudah tahu. Rama sudah menjelaskannya padaku” Kata Afiksi.

“Aku minta maaf sudah membuatmu...........” Kata Andra.

“Kau tidak salah apa-apa” Potong Afiksi.

“Surat itu memang bukan dariku, tapi isi surat itu cukup mewakili perasaanku” Kata Andra.

Keduanya tertegun. Andra tak menyangka mampu mengatakan hal itu di hadapan Afiksi. Sedangkan Afiksi sedikit tersipu mendengar kata-kata Andra. Kemudian keduanya mulai menyantap makan malam yang telah dihidangkan.

“Afiksi, aku tidak melihat orang lain dirumah ini selain kau dan satpam didepan rumahmu itu” Kata Andra.

“Ayahku sudah meninggal sejak aku berusia 5 tahun. Untuk mencukupi keperluan kami, Ibuku bekerja siang malam. Meski aku rasa semuanya ini lebih dari cukup. Namun ibu tetap tak mau berhenti bekerja. Ia pulang satu bulan sekali pun sudah cukup bagus. Aku tahu Ibu sangat sayang padaku. Untuk itu ia bekerja tanpa kenal lelah untukku” Cerita Afiksi.

“Apakah kau merasa sedih dengan semua ini?” Tanya Andra.

“Aku sudah tidak lagi mengetahui arti kesedihan. Selama satu tahun sejak Ayahku meninggal, setiap hari aku menangis diruang kerja ayahku. Dan ibuku hampir bunuh diri akibat melihat tingkahku yang tak mau berhenti menangis. Sejak saat itu aku memutuskan untuk tidak akan menangis lagi demi ibuku” Jelas Afiksi.

“Aku tak menyangka bahwa kehidupan Afiksi tak seindah taman bunga di halaman rumahnya. Ternyata ini apa yang dikatakan oleh Rama” Ucap Andra dalam hatinya.

Keduanya menyudahi makan malam mereka. Andra beranjak menuju Afiksi yang juga telah berdiri didekat jendela. Dirangkulnya tubuh Afiksi, memberikan sedikit ketenangan bagi Afiski. Afiksipun menyambut pelukan penuh kehangatan itu. Keduanya berdansa diiringi lagu klasik yang menemani mereka sejak Andra datang kerumah itu.

Detik-detik jam mengantarkan mereka pada kian larutnya malam itu. Kecupan manis dari bibir tipis Afiksi mendarat pada bibir Andra. keduanya larut dalam kemesraan malam itu. Alunan musik yang mendayu tak bisa menyadarkan mereka pada apa yang sedang mereka perbuat. Perlahan Andra lepaskan ikatan tali pengikat pinggang pada gaun Afiksi. Lalu diturunkannya gaun yang dikenakan oleh Afiksi hingga terjatuh ke lantai. Terlihat jelaslah tubuh seksi Afiksi yang hanya terbalut dua helai pakaian tipis. Afiksi seolah tak berdaya dengan apa yang dilakukan oleh Andra. Ia terlalu hanyut dengan kecupan mesra Andra yang telah menggerayangi sekitar lehernya.

Hingga akhirnya Afiksi menarik Andra menuju sebuah sofa mewah diruangan itu. Perlahan helaian kain tipis yang menyelimuti tubuh Afiksipun mulai dilepaskannya. Namun tiba-tiba Andra terkejut dan langsung berdiri dari sofa itu. Ia baru tersadar dengan apa yang tengah mereka perbuat. Tak seharusnya mereka melakukan hal itu. Selain usia mereka yang masih terlalu mudah, tentu saja alasan bahwa mereka bukanlah muhrim mengharamkan mereka untuk melakukan hubungan yang lebih intim tersebut.

“Afiksi, aku minta maaf padamu. Tak seharusnya aku lakukan ini padamu” Kata Andra penuh penyesalan.

“Benar, tak seharusnya kita melakukan hal ini. Kita terlalu terhanyut oleh suasana, sehingga kita tak menyadari apa yang telah kita lakukan” Kata Afiski.

Kini Afiksi kembali mengenakan pakaiannya yang telah terjauth ke lantai setelah sempat dilepaskan oleh Andra. Dalam hatinya ia bergumam bahwa ternyata Andra memang berbeda dengan laki-laki lainnya. Jika laki-laki lain tentu tak akan pernah melewatkan hal ini, baik dalam keadaan sadar maupun tidak sadar. Sedangkan Andra dalam posisi puncakpun ia mampu tersadar terhadap apa yang ia perbuat.

“Afiksi, sebaiknya aku pulang saja. Aku tak ingin hal yang lebih buruk terjadi” ucap Andra.

Afiksipun hanya mengangguk setuju. Ia pun tak mau awal keakraban keduanya ternodai oleh hal yang tidak diharapkan. Dentingan jam sebanyak sebelas kali mengantarkan langkah Andra menuju kendaraanya yang terparkir didekat taman bunga. Suara deru mesin kendaraan beriring senyum mengakhiri pertemuan mereka malam itu. Andra segera memacu kendaraannya keluar dari gerbang rumah megah itu. Lima puluh meter dari rumah itu, dilintasinya sebuah mobil yang terparkir tanpa seorangpun didalamnya. Namun Andra tak menaruh curiga pada mobil itu. Ia tetap saja memacu kendaraannya dengan beberapa pemikiran menggelayut diotaknya. Rasa sesal, takut, dan bingung menghantui perasaanya.

Dari mobil kijang warna hitam itu, terlihat seorang pria duduk di bangku kemudi. Pria yang ternyata adalah Rama sengaja bersembunyi ketika Andra melintasi tempat itu. Ternyata Rama telah berada ditempat itu sejak Andra datang kerumah Afiksi. Dari tempat itu ia dapat melihat melalui kejauhan ruangan pesta makan malam di rumah Afiksi. Meski samar-samar ia terus mengintai aktifitas kedua insan itu.

Raut penyesalan dan kekesalan terpancar diwajahnya. Seorang laki-laki datang kerumah wanita, dan jam sebelas malam baru keluar. Pemikiran-pemikiran itulah yang kini menghampirinya. Sedikitnya ia dapat mengira apa yang dilakukan oleh kedua teman dekatnya itu. Bahkan beberapa adegan dansa dan kemesraan mereka dapat ia lihat secara samar-samar dari tempatnya. Namun ia sengaja tak mencegah ataupun menghampiri keduanya. Ia berharap agar kedua temannya mampu menyadari perbuatan mereka.

“Andra, semoga kau tak membuat air mata Afiksi kembali mengalir” Ucap Rama pelan dengan setetes airmata menetes membasahi jok mobilnya.

Meski ia dicap sebagai seorang playboy sekolah, namun ia sangat menghormati harga diri wanita. Ditambah lagi, ia telah mengetahui semua hal tentang Afiksi. Hal yang membuat ia sangat bersimpati, hal yang membuat ia merasa iba, hal yang membuat ia bertekad untuk menjaga Afiksi hingga ia tak mampu lagi melakukannya.

Sebuah masalah besar mengintai Andra dan Afiksi. Meski kesucian Afiksi tak sempat terambil oleh Andra, namun kejadian itu tentulah mempunyai pengaruh terhadap hubungan mereka dihari-hari berikutnya. Akankah kejadian itu mempu mengeratkan keakraban diantara keduanya. Ataukah Andra yang memiliki sikap bertanggung jawab justru meninggalkan Afiksi?

Usai sekolah, Andra dan Afiksi bertemu di depan gerbang sekolah. Mereka tak lagi terlihat canggung berjalan bersama. Teman-temannya pun berpikir positif terhadap kedekatan mereka berdua. Karena merekapun mengharapkan kedekatan Andra dan Afiksi sedari dulu. Rama yang pulang bersama Indah hanya melontarkan senyum ketika berpapasan dengan Andra dan Afiksi.

Hari itu adalah semi final pertandingan basket. Andra kembali harus datang terlambat, karena dia harus menjemput Afiksi terlebih dahulu. Namun keterlambatan bahkan ketidakhadiran Andra tak hanya disebabkan karena ia menjemput Afiksi. Dua buah motor terus mengikuti kendaraan Andra sejak ia menjemput Afiksi. Hingga akhirnya kendaraan itu menabrak kendaraan Andra. Andra dan Afiksipun terjatuh dan menderita luka yang cukup parah.

Rama dan kawan-kawan segera menuju kerumah sakit. Meski seharusnya mereka menghadiri acara pemberian penghargaan juara turnamen, namun hal itu tidak mereka hadiri setelah mengetahui kecelakaan menimpa Afiksi dan Andra.

Sesampai dirumah sakit, semuanya terlihat panik didepan ruang ICU. Mereka semua hanya bisa berdoa semoga Andra dan Afiksi bisa selamat dari kecelakaan itu. Kehisterisan semakin menjadi ketika dokter keluar dari ruang ICU.

“Benturan keras di kepala Afiksi mengakibatkannya mengalami kebutaan” jelas Dokter.

“Lalu bagaimana dengan Andra?” tanya Rio.

“Maafkan kami, Andra tidak bisa kami selamatkan” Tambah Dokter.

Semua yang ada disana terperanjat. Bibir mereka bergetar namun tak dapat mengucapkan satu katapun. Beberapa wanita yang hadir disana hanya bisa menangisi kepergian teman terbaiknya itu.

Bersambung........................

BAB IV

I

nilah hari yang penting bagi tim basket SMA Negeri Musi Rawas. Hari ini adalah pertandingan perdana bagi tim itu untuk tingkat Provinsi. Beberapa kemenangan pada tingkat kabupaten/kota pernah mereka dapatkan, namun untuk kemenangan tingkat provinsi akan ditentukan pada turnament kali ini.

Semua anggota tim telah berkumpul diruang ganti untuk menentukan strategi yang akan mereka gunakan pada pertandingan itu. Andra yang terlambat datang digantikan oleh Rama yang merupakan wakil ketua tim basket putra. Berbagai taktik pertandingan dibahas serius oleh semuanya. Sifat playboy Rama tak pernah terlihat ketika ia tengah membahas tentang pertandingan basket. Hanya basketlah yang bisa membuat Rama terlihat serius.

Matahari yang kian condomg ke barat namun sinarnya tetaplah terik. Semua anggota tim tak lagi berada diruang ganti. Semuanya kini telah berkumpul dilapangan untuk mengadakan pemanasan. Namun hingga kini Andra masih belum datang. Rio berusaha menghubungi Andra, namun handphonenya tak dapat dihubungi.

“Kemenangan kita tidak ditentukan oleh datang atau tidaknya Andra. Kita semua adalah pemain, bukan penonton. Jadi, apapun yang terjadi, kita harus tetap bermain dan menang” Ucap Rama.

Kata-kata Rama sangatlah berarti untuk membangkitkan kepercayaan diri teman-temannya yang lain. Mereka yakin, dibawah komando Ramapun telah cukup untuk mengantarkan mereka memenangkan pertandngan. Berbagai kemenangan membuat mereka tak punya alasan untuk takut terhadap lawan mereka.

Lengkingan fluit wasit berbunyi memerintahkan semua pemain untuk segera berkumpul di tengah lapangan. Sorak sorai pendukung kedua tim memeriahkan pertandingan itu. Disalah satu bangku penonton Afiksi duduk menyaksikan pertandingan hari itu ditemani Widya dan Tiara. Widya dan Tiara yang juga anggota tim basket putri tak mau melewatkan pertandingan itu. Sepanjang pertandingan, merekalah yang paling semangat memberikan dukungan.

Quarter pertama berlangsung seru. Tim SMA Negeri Musi Rawas memimpin perolehan poin. Kini kedua tim tengah beristirahat. Dan saat itulah Andra datang. Terlihat warna biru menghiasi wajahnya. Dan sedikit noda darah mengotori pakaiannya.

“Apa yang terjadi denganmu, An?” Tanya Rama.

“Saat perjalanan ketempat ini, aku diserang oleh beberapa orang” Jelas Andra.

“Kau tahu siapa orang-orang itu? Tanya Rio.

“Sepertinya mereka suruhan dari SMA yang menjadi lawan kita saat ini. Aku mencurigainya karena sejak awal mereka sangat ingin mematahkan kakiku. untungnya teman-teman kita yang sedang menuju kesini untuk menonton pertandingan membantuku” Jelas Andra.

“Kita akan balas mereka” Timpal Rama.

“Tidak perlu, aku tidak apa-apa. Jika kita membalas, maka kita akan didisfikualifikasi. Kita balas mereka dengan cukup memenangkan pertandingan ini saja” Andra Menenangkan.

Dari kejauhan Afiksi melihat hal itu. Ia khawatir akan keselamatan Andra. Namun kekhawatiran itu hanya bisa dipendamnya. Karena ia tahu bahwa Andra bukanlah siapa-siapa baginya. Ia hanya bisa tertunduk berdoa semoga Andra tidak apa-apa.

Kini Andra telah ikut bermain. Meskipun dalam keadaan terluka tak mengurangi kehebatan Andra dalam bermain. Pertandingan berakhir dengan kemenangan bagi SMA Negeri Musi Rawas. Siswa-siswi yang menyaksikan pertandingan itu bersorak gembira. Sedangkan lawan mereka keluar lapangan dengan wajah tertunduk.

Di ruang ganti, mereka kembali membahas kejadian yang menimpa Andra. Namun, Andra kembali bisa menenangkan teman-temannya. Kepuasan memenangkan pertandingan hari itu sedikit mengobati luka yang dirasakan oleh Andra.

Afiksi berdiri tersandar didepan ruang ganti. sengaja ia menunggu disana untuk menemui Andra. Kekhawatirannya terhadap Andra masih belum hilang. Setidaknya ia hanya ingin melihat keadaan Andra dari dekat.

Andra keluar ruangan dengan handuk putih dilehernya. Dilihatnya Afiksi yang tengah memandang taman bunga. Perlahan ia dekati Afiksi dan menegurnya dengan lembut.

“Sedang apa kamu disini?” Tanya Andra.

“Apa kamu baik-baik saja? Aku lihat tadi kamu terluka.” Tanya Afiksi Gugup.

“Aku tidak apa-apa”Jawab Andra.

“Echm.. Aku pulang dulu” Kata Afiksi yang langsung pergi meninggalkan tempat itu.

“Afikis” Panggil Andra.

Afiksi sejenak berhenti tanpa membalikkan tubuhnya.

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu” Tambah Andra.

Afiksi berbalik dan memberikan senyumannya kemudian langsung pergi tanpa mengucapkan sesuatupun. Entah apa makna senyum Afiksi itu. Andrapun pulang dengan perasaan yang cukup lega. Karena hari ini ia telah memenangkan dan juga karena ia berhasil berbicara empat mata dengan Afiksi untuk pertama kalinya. Ya, meskipun mereka telah lama berada dalam satu sekolah bahkan satu kelas, namun tak sekalipun mereka bertegur sapa dan berbincang seperti tadi.

Esok paginya, Andra dan Afiksi tak sengaja bertemu di perpustakaan. Andra tak lagi merasa canggung berbicara pada Afiksi. Dengan sifat pemalunya, Afiksi menanggapi pembicaraan itu.

“Maaf, kemarin aku langsung pergi meninggalkanmu” Kata Afiksi.

“Tidak apa-apa. Tapi kenapa kau disana sendirian kemarin?” Tanya Andra.

“Aku hanya ingin mengucapkan selamat atas kemenagan kalian” Jawab Afiksi sambil tertunduk.

“Kemarin kau ingin mengatakan sesuatu?” Lanjut Afiksi.

“Aku ingin menjelaskan tentang.........” Kata Andra

Treeeeeeeeeeeetttttttttt........Treeeeeeeeeeeeeeettttttttt.....

Pembicaraan itu tiba-tiba terputus oleh lengkingan bunyi bel masuk.

“Bel masuk sudah berbunyi. Aku kekelas duluan ya” Kata Afiksi.

Afiksi berdiri dan langsung meninggalkan tempat itu. Sepertinya ia sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh Andra. Ia terlihat sengaja menghindari pembicaraan itu.

Detak jantung Andra yang keras masih terdengar. Ia sangat gugup untuk menjelaskan tentang surat itu pada Afiksi. Ia takut Afiksi akan berfikir buruk tentang dirinya.

Andra berdiri untuk meninggalkan perpustakaan itu. Saat ia berjalan keluar ruangan itu, handphonenya berbunyi. dibukanya sms dari nomor yang baru masuk dihandphonenya itu.

Aku undang kamu makan malam...

Aku tunggu jam 7 dirumahku..

Afiksi..

Isi sms itu sontak membuat Andra gugup. Diulangnya berkali-kali membaca sms itu untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa sms itu benar-benar dari Afiksi untuknya.

Kemudian ia meneruskan langkahnya menuju ruang kelas. Siswa dan siswi lainnya telah berada didalam kelas. Memasuki ruang kelas pandangan Andra tertuju pada tempat duduk paling belakang yang menjadi singgasana bagi Afiksi. Afiksi tersenyum kemudian tertunduk malu seolah menandakan isi sms itu benar-benar darinya. Andrapun membalas senyuman itu untuk meyakinkan bahwa ia pasti datang memenuhi undangan itu. Andra melangkahkan kaki menuju tempat duduknya.

Sepulang sekolah, Andra dan tim basketnya kembali melanjutkan pertandingan. Namun Andra tak dapat bermain baik sore itu. Justru Rama yang banyak mencetak poin sehingga menghantarkan timnya kembali memenangkan pertandingan.

“Ada apa denganmu, An?” Tanya Rama.

“Entahlah, aku sulit berkonsentrasi” Jawab andra.

“Saat dilapangan, lupakan semua masalah pribadi, An. Yang ada hanyalah memasukkan bola ke dalam ring” Rama menasehati.

Andra terus memikirkan undangan makan malam dari Afiksi. Ia bingung harus bersikap bagaimana nanti malam. Apa yang harus dikatakannya. Apa yang ingin dibahas oleh Afiksi malam nanti. Dan hal yang cukup penting adalah dia belum tahu dimana rumah Afiksi.

“Rama, kau tahu rumah Afiksi?” Tanya Andra.

“Ya aku tahu. Ada perlu apa?” Kata Rama.

“Aku hanya ingin tahu saja. Tolong kau tuliskan di hp ku ini” Kata Andra.

Kini Andra telah mendapatkan alamat rumah Afiksi. Lalu bagaimana kelanjutan hubungan mereka? Akankah malam ini akan menjadi awal jalinan hubungan Andra dan Afiksi. Dan bagaimanakah Andra akan menjelaskan tentang surat itu pada Afiksi?

Tunggu ya kelanjutannya....

BAB III

S

iang itu hari cukup cerah untuk sedikit melakukan refreshing. Andra, Nopri, Rio, Rama dan beberapa temannya yang tergabung dalam tim basket hari itu memutuskan untuk pergi ke Wisata Air Terjun. Di sana mereka bisa membuat diri mereka relaks sebelum menghadapi pertandingan basket antar sekolah yang akan berlangsung dua hari lagi. Suasana yang sejuk, merdunya suara air terjun, dan sayup-sayup terdengar kicauan burung ditengah-tengah sawah dengan padi yang menguning membuat mereka merasa enjoy berada disana.

Semuanya segera melepaskan tas yang mereka bawa dan langsung menuju kebawah air terjun. Nopri dan beberapa orang lainnya memutuskan untuk berfoto-foto di dekat air terjun. Sedangkan Rio dan tiga orang lainnya lebih memilih berkenalan dengan beberapa wanita yang kebetulan juga tengah berada disana. Namun berbeda dengan Rama dan Andra, disaat teman-temannya menikmati segarnya udara dari alam yang hijau, mereka justru terlibat pembicaraan yang cukup penting.

“Andra, aku mau bicara sesuatu denganmu” ajak Rama.

“Bicara tentang apa? Sepertinya serius sekali” Jawab Andra.

“Aku mau bahas tentang hubunganmu dengan Afiksi” Terang Rama.

“Ada apa antara aku dengan Afiksi?” Andra bingung.

“Jangan pura-pura tidak tahu. Aku dengar diam-diam kau sedang mendekati Afiksi. Dan aku juga tahu kau pernah mengirimkan surat teAku ingin minta konfirmasi darimu langsung”

“Aku tidak perlu mengkonfirmasi apapun. Karena aku memang tidak melakukan apapun terhadap Afiksi. Dan tentang surat itu, aku tidak mengerti apapun” Terang Andra.

“Andra, aku ingin kau tahu satu hal. Aku sangat mengagumi Afiksi, bukan hanya karena dia cantik. Tapi aku juga kagum tentang kepribadian dan latar belakangnya. Sejak dia pertama kali aku bertemu dia aku langsung mencari tahu siapa dia sebenarnya. Jadi, jika kau berani mempermainkannya, kau akan berhadapan denganku” Ancam Rama.

“Lalu bagaimana dengan Nita?” Tanya Andra.

“Aku mencintai Nita. Tapi aku tetap memiliki ruang khusus di hatiku untuk Afiksi. Nita adalah Nyawaku dan Afiksi adalah hidupku”

Suasana sekitar begitu dingin oleh percikan air, namun tidak bagi kedua laki-laki itu. Disaat teman-teman mereka yang lain bercanda ria bermain dengan jernihnya air, namun Andra dan Rama terlibat pembicaraan yang panas. Diam-diam Rama mengikuti Afiksi pulang kerumahnya. Bukan untuk berbuat hal yang diluar kewajaran, namun hanya untuk mengetahui bagaimana kehidupan Afiksi diluar jam sekolah. Karena memang sikap pendiam Afiksi membuat siswa-siswi belum ada yang mengetahui latar belakang Afiksi selain Tiara, Widya, dan Rama.

Hari beranjak sore, Andra dan teman-temannya bersiap untuk pulang. Mereka merasakan kepuasan tersendiri pada hari itu. Meski Wisata itu berada di kota tempat tinggal mereka, namun saat berkumpul bersama seperti hari itu memang hal yang jarang mereka lakukan.

“Andra, ingatlah kata-kataku tadi” Ucap Rama.

Andra hanya tersenyum berusaha meyakinkan Rama. Kemudian Rama segera memacu Tiger merahnya meninggalkan teman-temannya yang masih sibuk mengeluarkan sepeda motor dari parkiran.

“Andra, malam ini aku dan Rio menginap di rumah kamu ya” kata Nopri.

“Boleh, tapi malam ini kamu yang beli makanan ya” Jawab Andra berusaha menghangatkan suasana.

“Beres, kan Rio baru gajian” Tambah Nopri.

“Loh, kenapa aku yang jadi tumbal” Elak Rio.

“Hayolah, kapan lagi mau traktir kami?” Bujuk Nopri.

“Ya sudah, baiklah” Kata Rio.

Cahaya jingga matahari senja kian menghitam. Suara gemuruh mesin kendaraan lama-kelamaan meredam seiring memekiknya suara Adzan. Andra, Nopri dan Rio telah sampai di rumah. Sejenak mereka menyiapkan diri untuk melaksanakan ibadah shalat maghrib. Meskipun, masih muda dan sedikit terpengaruh perkembangan zaman, mereka tetap menjalankan ibadah yang menjadi kewajiban mereka sebagai seorang muslim. Bagi mereka, ibadah tak hanya sekedar ritual kerohanian semata. Namun juga berdampak pada psikologis dan psikis mereka.

“Andra, aku lihat tadi kau berbicara hal yang penting dengan Rama” Tanya Rio.

“Iya benar, kami yakin yang kalian bicarakan bukan tentang tak-tik yang akan kita gunakan pada pertandingan nanti” Tambah Nopri.

“Rama tadi menanyakan tentang kedekatanku dengan Afiksi. Ia mengira aku diam-diam mendekati Afiksi. Tapi yang membuat aku bingung adalah tentang surat yang dikatakan oleh Rama. Padahal aku tak pernah mengirim surat pada Afiksi” Jelas Andra.

“Oh, jadi Afiksi sudah membaca surat itu” Kata Rio.

“Bagaimana kalian bisa mengetahui tentang surat itu? Atau jangan-jangan...” Andra bingung.

“Sebelumnya kami mohon maaf padamu. Memang kami yang mengirimkan surat itu pada Afiksi” Kata Nopri.

“Wah! Kalian benar-benar kelewatan. Aku gak ngerti apa tujuan kalian melakukan itu. Yang pasti karena ulah kalian itu, sekarang aku jadi menghadapi masalah yang sulit” Andra terlihat marah.

“An, kita bersahabat sudah lama. Sejak kau putus dari Fitria, kau terlihat putus asa dengan cinta. Kami juga tahu, waktu kau melihat Afiksi wajahnya membuatmu teringat dengan Fitria” Nopri menenangkan.

“Tapi, tetap saja bukan begitu caranya. Ditambah lagi kalian tidak memberitahuku sebelumnya” Kata Andra.

“Awalnya kami hanya iseng saja memberikan surat itu pada Afiksi. Kami tidak mengira bahwa Afiksi akan bereaksi positif terhadap surat itu” Kata Rio.

“Kamu gak bisa terus-terusan menyalahkan dirimu, An. Afiksi juga suka sama kamu. Kami yakin Afiksi akan bisa mengobati hatimu yang luka setelah meninggalnya Fitria” Tambah Nopri.

“Ku akui dia memang sangat mirip dengan Fitria. Tapi tak ada yang bisa menggantikan posisinya dihatiku” Kata Andra.

Malam kian larut. Suara kendaraan yang melintasi rumah pagar hijau itupun tak lagi terdengar. Suara burung hantu yang sedikit membuat bulu kuduk berdiri menemani malam yang dingin itu. Nopri dan Rio pun tertidur setelah perbincangan mereka malam itu berakhir. Sedangakan Andra kini tengah sibuk membuka Blognya di internet. Dinginya malam itu tak mampu untuk menutup matanya, apalagi untuk membuat pikirannya bebas dari kata-kata Rama siang tadi.

Di Blog itulah Andra tumpahkan semua hal tentangnya, tentang kisah cintanya, tentang persahabatannya, termasuk juga tentang Fitria. Tertulis disana bahwa Fitria adalah teman Andra sejak kecil dan menjadi kekasih pertamanya pada saat keduanya masuk SMA. Namun, hari itupun tiba. Hari dimana keduanya tengah berada di salah satu Bank daerah. Kemudian datang sekelompok perampok bersenjata yang menggunakan Fitria sebagai sandera. Perampok itu memang berhasil ditangkap. Namun, Fitria yang mengalami luka tusuk akibat melakukan perlawanan terhadap perampok itu, meninggal karena kehabisan darah.

Andra mengalami pukulan yang sangat berat sejak kejadian itu. Satu bulan ia tidak bersekolah karena stres. Ia mengaggap bahwa meninggalnya Fitria adalah kesalahannya. Seandainya saja ia tidak mengajak Fitria pada hari itu, tentu kejadian itu tidak akan terjadi. Namun sahabat-sahabatnya, Nopri dan Rio yang selalu memberikan semangat padanya juga keluarga Fitria yang tak pernah menyalahkannya atas kejadian itu.

Dan kini, datanglah Afiksi yang hari kedatangannya adalah tepat satu tahun meninggalnya Fitria. Wajah Afiksi, senyumnya, keramahannya, sinar matanya bahkan suara lembutnya benar-benar mengingatkan Andra pada Fitria. Namun semua itu tetap disimpannya dalam hati. Ia tak mengungkapkannya karena ia tak ingin mengenang kembali kisah pahitnya itu.

BAB II

E

mpat Minggu sudah Afiksi bersekolah di SMA Negeri Musi Rawas. Sedikit pengalaman baru telah ia terima, berbagai ilmu baru telah ia pelajari, dan lingkungan baru yang lebih sejuk dibandingkan kota tempat tinggalnya yang lalu. Banyak orang yang telah ia kenal, dan tak sedikit pula siswa-siswa yang bermaksud untuk mendekatinya, lebih dekat dari seorang teman. Ya, walaupun baru satu bulan ia bersekolah disana, namun pesonanya telah menyinari hati siswa-siswa sejak pandangan pertama.

Treeeeeeeeeeeetttttttttt........Treeeeeeeeeeeeeeettttttttt.....

Bunyi bel sekolah membuat ramai suasana ditiap kelas, Tak terkecuali kelas XI IPA 2. Lengkingan bel istirahat itu mengisyaratkan semua siswa-siswi untuk segera keluar kelas, menuju tempat yang selalu ramai ketika jam istirahat tiba, kantin. Afiksi bersama Widya dan Tiara, teman yang duduk di depannya pun tak menyia-nyiakan waktu istirahat ini. Mereka pergi ke kantin, setidaknya untuk melepaskan dahaga selama pelajaran Fisika yang memang sedikit menyita tenaga dan pikiran.

“Hai Afiksi???” Sapa seseorang yang tiba-tiba duduk di samping Afiksi.

“Ech, Hai Rama.” Jawab Afiksi sedikit terkejut.

“Pulang nanti aku antar ya!?” tawar Rama.

“Aku tak mau merepotkanmu, apalagi nanti kamu kan harus mengantar Nita pulang” Jawab Afiksi.

“Kok jadi bahas tentang dia sih? Aku dengan dia tuch gak ada apa-apa, dia emang suka ama aku, tapi aku tak memperdulikannya” Sanggah Rama.

“Iya nih Rama, pacar sudah segudang juga, masih mau aja deketin cewek lain, ntar aku bilangain Indah loh” Ujar Widya yang tiba-tiba ikut mengobrol.

Rama adalah salah satu dari banyak siswa yang terus berusaha mendekati Afiksi. Berbagai cara dilakukan oleh siswa-siswa selama 1 bulan ini untuk mendapatkan hati Afiksi. Ada yang memberikan puisi setiap pagi, menyelipkan bunga dimeja Afiksi, membentuk kelompok belajar bersama Afiksi, hingga yang langsung mendekatinya seperti Rama, sang Playboy Sekolah putra anggota DPRD.

Rasanya memang tak aneh jika siswa-siswa itu rela meninggalkan pacar-pacar mereka demi mendapatkan hati Afiksi. Afiksi adalah wanita yang cantik, baik, cerdas, dan menarik. Setidaknya begitu pendapat mereka tentang Afiksi.

Namun, ada seseorang yang membuat Afiksi merasa kagum. Andra, Ketu Kelas yang juga seorang Ketua OSIS di SMA itu. Seorang yang cerdas, juga memiliki penampilan yang sangat jauh lebih menarik jika dibandingkan dengan Rama. Keahliannya bermain basket juga telah membuat banyak siswi bergabung dalam Tim Basket. Bukan hanya untuk belajar bermain basket, tapi juga berusaha untuk selalu dekat dengannya.

Sejauh ini memang Andra lah yang tak ingin ikut dalam aktivitas teman-temannya untuk mendapatkan Afiksi. Mungkin kesibukan telah menguras banyak waktunya, sehingga ia tak punya lagi waktu untuk memikirkan tentang Afiksi. Sekarangpun Andra bersama Nofri dan Rio sibuk menyiapkan proposal pelaksanaan lomba antar kelas untuk diajukan ke Kepala Sekolah.

“Andra, kamu tahu kan Afiksi, siswi baru dikelasmu itu?” tanya Rio.

“Ya, aku tahu. Kenapa?” Jawab Andra.

“Wah! Dia itu cewek tercantik yang pernah aku lihat. Kalo Sandra Dewi sih, masih belum apa-apa” Puji Rio.

“Bener tuh, Aku juga sependapat sama Rio. Kamu punya Nomor Hapenya gak, An?” Sambung Nofri.

“Gak ada tuch” Jawab Andra singkat.

“Kamu kelihatan gak ada respon sama cewek secantik itu, atau jangan-jangan kamu gak suka cewek lagi” tanya Rio pada Andra.

“Ya, ku akui dia orangnya cantik, menarik, pintar, hanya saja aku gak mau kewajibanku jadi berantakan hanya karena seorang cewek” Jawab Andra dengan pasti.

“Baiklah, kita pegang omongan kamu. Kalo sampe kamu ketahuan suka sama dia, kamu harus traktir kita, setuju” Tantang Nopri.

“Oke. I agree with you” Jawab Andra.

Bel masuk kini telah berbunyi, semua siswa kembali menuju kelasnya masing-masing. Afiksi dan teman-temannya sedikit mempercepat langkah. Pelajaran yang akan mereka hadapi berikutnya adalah Kimia. Mereka tahu betul karakter guru pembimbing mereka yang satu itu, sehingga mereka tak mau terlambat satu menitpun karena tak mau mendapat hukuman membersihkan ruang kelas lagi.

Di dalam kelas, beberapa siswa telah siap di tempat duduknya. Sedang siswa lainnya terlihat jelas masih berjalan sambil ngobrol santai melintasi lapangan basket. Dewan guru juga telah keluar dari kantornya, menuju ruang kelas untuk melaksanakan kewajiban mengajarnya.

Afiksi menuju tempat duduknya, bangku kedua dari belakang. Meja belajarnya tak terlalu bersih, coretan memenuhi tiap sisi meja itu. Tertulis jelas puluhan nama siswa yang merupakan nama siswa yang sebelumbya duduk ditempat itu, ataupun tulisan kata-kata mutiara dari kakak kelasnya yang telah tamat. Tulisan itu tak lagi membuat Afiksi heran, selama satu bulan ini, tiap harinya ia telah melihat tulisan-tulisan itu.

Namun kini Afiksi sedikit terperanjat melihat sesuatu di bangku tempat duduknya. Sebuah surat berwarna merah jambu, berhias pita warna merah hati, dan tertulis indah nama Pina Afiksi pada kolom nama orang yang dituju oleh surat itu. Seringkali Afiksi menerima surat kaleng. Namun surat itu diterimanya pada pagi hari, bukan seusai istirahat seperti ini. Ditambah lagi kali ini surat itu tertulis nama pengirimnya, berbeda dengan yang sering ia terima sebelumnya.

Dibukanya ikatan pita merah hati itu. Ia tak lagi membaca isi surat itu. Karena selama satu bulan ini ia telah banyak membaca berbagai surat cinta dan puisi-puisi indah. Ia hanya penasaran dengan siapa yang kali ini memberikannya surat itu. Di bagian akhir surat itu tertulis sebuah nama, nama yang selama ini ia kagumi, Andra.

Kini ia mulai tertarik untuk membaca isi dari surat merah jambu itu. Tinta berwarna biru, dengan rangkaian tulisan tangan bertahta di sepucuk kertas itu. Terukir jelas kata kata dalam surat itu :

Dear Afiksi.

Ku tak tahu, kata apa yang harus aku tulis di atas kertas ini. Bahkan sejuta kata dalam kamus telah aku pilih, namun tetap tak mampu mengungkapkan penilaianku tentang dirimu.

Kerlipan bintang dari matamu, membuat malam-malamku sunyi tanpa melihatmu. Sinar wajahmu bagai rembulan membuat malam-malamku begitu kelam tanpa hadirmu. Sejuk kata-katamu membuatku terlalu terhanyut dalam mimpi-mimpiku.

Hanya kata-kata berwujud lukisan pena yang mampu wakilkan hatiku. Karena ku tak terlalu kuat untuk menatap indah matamu. Ku tak terlalu perkasa untuk berada disampingmu. Ku tak terlalu hebat untuk ucapkan kata-kata dihadapmu.

Ia terperanjat. Apakah surat ini benar-benar dari Andra? Untuk apa Andra mengirim surat itu? Mengapa ia tidak menyerahkannya langsung? Hal-hal itulah yang kini membayangi pikirannya.

“Hei Afiksi....Hei, itu Pak Guru sudah datang” Kejut Tiara.

Afiksi tersadar dari lamunannya. Tanpa ia sadari Pak Tito, Guru mata pelajaran Kimia telah berdiri didepan kelas. Afiksi duduk sambil tetap memikirkan tentang surat tersebut. Berpuluh pertanyaan menggelayut di pikirannya. Ia tetap bingung, benarkah Andra yang mengirimkan surat itu.

Pak Tito memulai pelajarannya pada hari itu. Namun bayang-bayang tentang surat itu masih mengganggu Afiksi. Diperhatikannya Andra yang duduk di bangku paling depan tengah mengikuti dengan serius pelajaran pada siang yang terik itu. Terlihat tak ada reaksi apapun dari Andra. Ataukah Andra terlihat sedikit malu-malu karena mengetahui bahwa surat itu telah dibaca olehnya. Namun tidak demikian yang dia lihat. Andra terlihat begitu santai, yang terlihat hanyalah sikap kesungguhan belajar yang seperti biasa dia tunjukkan.

“Mungkin ini hanya pekerjaan orang-orang iseng yang mengatasnamakan Andra. Namun, dilihat dari tulisannya, sangat jelas berbeda dari surat-surat yang ia terima sebelumnya” Begitu pikirnya.

“Jika benar surat ini dari Andra, lalu apa yang akan Andra lakukan berikutnya. Apakah ia akan mengungkapkannya langsung? Ataukah dia akan tetap tak berani untuk berkata langsung padaku? Huh..dasar Andra, mengapa kamu membuatku bingung seperti ini”Gumamnya.

“Afiksi....Afiksi....”

Terdengar suara pak Tito membangunkan Afiksi dari lamunannya.

“Apa yang sedang kamu pikirkan? Apakah kurang sehat?” Tanya pak Tito.

“Maaf pak, saya kurang konsentrasi” Jawab Afiksi.

“Hei Afiksi. Kamu dari tadi melamunkan apa? Pak Tito dari tadi merhatiin kamu tuh?” Tanya Widya.

“Gak tahu nih, aku lagi gak konsentrasi hari ini” Jawab Afiksi.

“Afiksi, Coba kamu kerjakan soal nomor 2” Suruh pak Tito.

“Baik, Pak”Jawab Afiksi.

Afiksi berjalan menuju papan tulis. Ia sedikit menghela nafas untuk menghilangkan lamunannya. Kemudian Afiksi mulai mengerjakan soal itu dengan tenang. Dalam beberapa menit, soal yang diberikan Pak Tito selesai dikerjannya. Ya, walupun Afiksi tak memperhatikan penjelasan dari Pak Tito, namun Afiksi adalah anak yang pandai. Ia telah mempelajari materi dari Pak Tito satu hari sebelumnya. Sehingga, pada saat ia diminta mengerjakan tugas ia tetap mampu mengerjakannya.

Afiksi membalikkan tubuh untuk kembali ketempat duduknya. Diperhatikannya Andra yang sedang memeriksa jawaban yang ia kerjakan di papan tulis. Sesaat kemudian dilihatnya Andra tersenyum padanya. Hal itu membuatnya tertegun dan terpaku. Ia bertambah bingung, apakah makna senyum yang diberikan oleh Andra itu?

“Baik sekali. Ternyata kamu tetap bisa mengerjakan soal dari Bapak meskipun bapak tahu sejak tadi kamu tidak memperhatikan penjelasan bapak” Puji Pak Tito.

“Tapi, jika kamu sedang tidak sehat. Sebaiknya kamu istirahat saja diruangan UKS” Sambung Pak Tito

“Baik, Pak” Jawabnya singkat.

Afiksi mengambil tasnya, kemudian pergi meninggalkan ruang kelas itu. Ia berpikir bahwa lebih baik ia istirahat terlebih dahulu di ruangan UKS daripada harus terus melamun memperhatikan Andra yang akan berakibat ia dimarahi oleh Pak Tito. Setidaknya ia bisa memikirkan benarkah surat itu dari Andra.

Afiksi!! Cinta Tak Terlihat!!


Disebuah gerbang sekolah ternama di Musi Rawas, tiba-tiba melintas seorang dara dengan rambut panjang terurai. Angin yang bertiup seolah sengaja membuat rambut Sunsilknya melambai-lambai untuk menunjukkan pesona wanita pemilik rambut indah itu. Dengan gaya berjalan bak peragawati yang berjalan di atas catwalk, wajahnya pun tak kalah dengan model-model sampul majalah remaja, hidung mancungnya, bibir merahnya, dan mata indahnya membuat beberapa pria yang masih mengenakan seragam putih abu-abu itu tertegun menatapnya. Dan tak sedikit pula siswa yang menghentikan aktivitasnya untuk sejenak terperangah melihat wanita cantik yang belum pernah dilihatnya.

Mata coklatnya yang beralis tipis sejenak mengamati keadaan sekelilingnya. Dilihatnya orang-orang yang ia sadari tengah menatapnya, yang kemudian dibalas dengan senyuman. Ada juga anak-anak yang berbincang ria di tempat parkir motor. Serta beberapa anak yang sedang membersihkan taman bunga ditemani kupu-kupu nan cantik serta tetes-tetes embun pagi yang masih melekat pada kelopak bunga.

“Hai, kamu anak baru ya? Boleh kenalan dong?” tanya seseorang yang tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang.
“Maaf saya belum punya alasan untuk mengenal kamu” jawabnya dengan senyum ramah.
“Kamu adalah cewek pertama yang kudatangi untuk berkenalan. Dan itu adalah alasan yang tepat untuk kamu kenal dengan orang paling TOP di SMA ini” Katanya
“Echm, maaf boleh saya tahu dimana ruangan Kepala Sekolah?” tanya wanita itu mengalihkan pembicaraan.
“Baiklah jika kamu tetap tidak mau memberitahukan siapa namamu. Aku akan cari tahu nama kamu dengan cara yang lain. Tapi kamu tetap boleh tahu namaku, kamu bisa panggil aku Rama. Dan aku yakin kamu pasti akan mencariku lagi” Kata laki-laki itu yang kemudian buru-buru pergi.
“Rama” Tiba-tiba wanita itu memanggil.
“Benarkan, kamu akan ada perlu denganku” Jawabnya.
“Aku hanya mau bilang kaus kaki kamu berbeda” Katanya sambil tersenyum.

Setelah mengikat tali sepatunya, ia langsung pergi meninggalkan tempat itu. Terlihat ia sangat buru-buru menghindari bertemu seseorang.

“Kamu siswi baru ya?” Tanya seorang wanita yang tiba muncul dari belakang.
“Tadi Rama mengganggu kamu ya?” Tanya wanita itu lagi.
“Tidak, dia hanya mengajak kenalan. Tapi entah kenapa dia langsung pergi” Jawabnya.
“Namaku Nita. Dia itu kan pacarku, jadi wajar saja dia pergi saat melihatku. Takut ketahuan selingkuh. Kamu tidak perlu percaya semua kata-katanya. Dia itu hanya sekedar playboy biasa saja” Terangnya ramah.
“Bisakah tunjukkan aku ruangan Kepala Sekolah?” Tanya dara manis itu.
“Baiklah, aku akan antarkan kamu kesana” Ajak Nita.

Kini Wanita cantik itu berjalan menuju ruang Kepala Sekolah diantarkan oleh Nita, Wanita yang baik, cantik, dan pacar dari Rama. Rama, seorang yang menganggap dirinya playboy sekolah, yang berikutnya akan terus mengejar siswi baru itu. Walaupun harus bermain kucing-kucingan dengan Nita, yang sebenarnya kekasih yang sangat ia sayangi.

“Assalamu’alaikum.. Permisi pak!!” Ucapnya sesampai di depan pintu ruang Kepala Sekolah.
“Ya, Silahkan masuk. Kamu murid baru pindahan dari SMA Negeri Palembang itu kan?” Kata Kepala sekolah sambil menandatangani beberapa arsip.
“Kamu akan masuk di kelas XI IPA 2” Sambung Pak Kepala Sekolah.

Sesaat setelah percakapan itu, Kepala Sekolah memanggil salah satu dewan guru untuk segera mengajak Dara manis itu menuju ke kelasnya. Keluar dari ruang Kepala Sekolah, senyumnya tetap membasahi bibir tipisnya. Kali ini senyumnya ia tujukan kepada dewan guru yang tengah sibuk menyiapkan bahan ajarnya. Ternyata kecantikan wanita itu tak hanya menaklukkan seragam putih abu-abu saja, tapi juga beberapa dewan guru yang kebetulan masih berstatus lajang. Inilah murid yang akan membuat suasana ruang kelas menjadi cerah, setidaknya begitu pikir mereka.

Kini wanita itu berjalan menuju sebuah ruang kelas bersama seorang guru yang di dadanya tertulis nama Musharofa. Obrolan yang ringan mengantarkan mereka hingga berada di kelas XI IPA 2.

“Anak-anak, hari ini kalian kedatangan teman baru” Ucap Bu Musharofah pada murid-muridnya yang telah duduk rapi ditempat masing-masing.
“Nah, sekarang kamu kenalkan diri kamu pada teman-teman barumu” sambung Bu Musharofa pada siswi barunya.

“Assalamu’alaikum.. Nama saya Afiksi. Saya pindahan dari kota Palembang. Semoga teman-teman dapat menerima saya disini” Kata Afiksi.

Yah, itulah dia, Pina Afiksi. Siswi baru yang kedatangannya telah memikat hati para siswa SMA Negeri yang terkenal akan prestasinya selama ini. Wanita yang begitu cantik, mata indahnya, senyumnya yang manis telah membuat siswa-siswa dikelas itu tersenyum sumringah karena bisa satu kelas dengannya. Sungguh dewa amor telah menghampiri kelas mereka hari itu.

Suasana hari itu sangat sejuk, seolah-olah alam pun menyambut kedatangan Afiksi. Dan Afiksi pun menyudahi perkenalannya juga dengan salam dan senyum manisnya.
“Afiksi, kamu boleh pilih tempat duduk yang kamu senangi” Kata Bu Mush.

Beberapa Siswa menawarkan untuk duduk bersamanya. Bahkan Rama, Siswa yang mengaku sebagai “Playboy Sekolah” rela mengusir Apri, teman sebangkunya. Beberapa Siswi tersenyum sebagai ungkapan bersedia jika Afiksi memilih duduk disampingnya. Namun, Afiksi lebih memilih duduk di bangku kosong yang terletak di belakang. Sikapnya yang sedikit pemalu membuatnya lebih memilih duduk sendiri daripada harus duduk bersama orang yang belum ia kenal.

Sedikit perkenalan dengan teman yang duduk di depanya menjadi awal karir pertemanannya di SMA Negeri Musi Rawas itu setidaknya untuk 2 tahun kedepan. Widya dan Tiara, itulah nama dua siswi yang duduk di depannya, yang kini menjadi temannya, yang akan bersama-sama Afiksi melewati hari-harinya bersekolah di SMA Negeri Musi Rawas itu.

Dan ibu Musharofa memulai pelajaran Bahasa Indonesia pagi itu.

Bersambung...............
tunggu kelanjutannya ya..
bakal lebih seru..

Perbandinga Bahasa Indonesia dan Malaysia

Berbanggalah kita yang memiliki bahasa yang sangat indah..
Perhatikan beberapa perbandingan kalimat bahasa Indonesia dan Malaysia berikut ini :

INDONESIA : Kementerian Hukum dan HAM
MALAYSIA : Kementerian Tuduh Menuduh

INDONESIA : Kementerian Agama
MALAYSIA : Kementerian Tak Berdosa (Parah...)

INDONESIA : Angkatan Darat
MALAYSIA : Laskar Hentak-Hentak Bumi

INDONESIA : Angkatan Udara
MALAYSIA : Laskar Angin-Angin

INDONESIA : "Pasukaaan bubar jalan !!!"
MALAYSIA : "Pasukaaan cerai berai !!!"

INDONESIA : Merayap
MALAYSIA : Bersetubuh dengan bumi

INDONESIA : rumah sakit bersalin
MALAYSIA : hospital korban lelaki (Bener Juga Ya...)

INDONESIA : telepon selular
MALAYSIA : talipon bimbit

INDONESIA : Pasukan terjung payung
MALAYSIA : Aska begayut

INDONESIA : belok kiri, belok kanan
MALAYSIA : pusing kiri, pusing kanan

INDONESIA : Departemen Pertanian
MALAYSIA : Departemen Cucuk Tanam

INDONESIA : 6.30 = jam setengah tujuh
MALAYSIA : 6.30 = jam enam setengah

INDONESIA : gratis bicara 30menit
MALAYSIA : percuma berbual 30minit

INDONESIA : tidak bisa
MALAYSIA : tak boleh

INDONESIA : WC
MALAYSIA : tandas

INDONESIA : Satpam/sekuriti
MALAYSIA : Penunggu Maling

INDONESIA : Aduk
MALAYSIA : Kacau

INDONESIA : Di aduk hingga merata
MALAYSIA : kacaukan tuk datar

INDONESIA : 7 putaran
MALAYSIA : 7 pusingan

INDONESIA : Imut-imut
MALAYSIA : Comel benar

INDONESIA : pejabat negara
MALAYSIA : kaki tangan negara

INDONESIA :bertengkar
MALAYSIA : bertumbuk

INDONESIA : pemerkosaan
MALAYSIA : perogolan

INDONESIA : Pencopet
MALAYSIA : Penyeluk Saku

INDONESIA : joystick
MALAYSIA : batang senang

INDONESIA : Tidur siang
MALAYSIA : Petang telentang

INDONESIA : Air Hangat
MALAYSIA : Air Suam

INDONESIA : Terasi
MALAYSIA : Belacan

INDONESIA : Pengacara
MALAYSIA : Penguam

INDONESIA : Sepatu
MALAYSIA : Kasut

INDONESIA : Ban
MALAYSIA : Tayar

INDONESIA : remote
MALAYSIA : kawalan jauh

INDONESIA : kulkas
MALAYSIA : peti sejuk

INDONESIA : chatting
MALAYSIA : bilik berbual

INDONESIA : rusak
MALAYSIA : tak sihat

INDONESIA : keliling kota
MALAYSIA : pusing pusing ke bandar

INDONESIA : Tank
MALAYSIA : Kereta kebal

INDONESIA : Kedatangan
MALAYSIA : ketibaan

INDONESIA : bersenang-senang
MALAYSIA : berseronok

INDONESIA : bioskop
MALAYSIA : panggung wayang

INDONESIA : rumah sakit jiwa
MALAYSIA : gubuk gila

INDONESIA : dokter ahli jiwa
MALAYSIA : Dokter gila

INDONESIA : narkoba
MALAYSIA : dadah

INDONESIA : pintu darurat
MALAYSIA : Pintu kecemasan

INDONESIA : hantu pocongk
MALAYSIA : hantu Bungkus

Catatan : Perbandingan kalimat ini tanpa didasari keinginan untuk mengucilkan salah satu pihak!!!

SMS Bikin Pusing

1. Gua pingin ngomong sama loe,,,, baca no 5

2. mmm.... Gimana ngomongnya ya.....???? Baca no 8

3. Penasaran ya??? Baca no 9

4. Dari pada bingung baca aja no 15

5. Gua gak berani ngomong nich!!!! 17 aja ya

6. Gua Pinginnya sich ngomong sekarang, tapi no 16 deh!!

7. Q bakal Ngomong, tapi baca dulu no 2

8. Yang pingin gua sampein tuch benar2 simple, makanya baca no 4

9. Gak usah deg2an gitu donk, Sederhana kok, Segampang baca no 18

10. Belum , Baca no 19 dulu !!

11. Mulai capek ya?? Sabar, Baca aja no 13

12. Sebenarnya gua pungin ngomong kalo (ah, Baca no 3 deh)

13. Tinggal dikit lagi, baca no 20

14. Duh, capek deh!!! baca no 21

15. Dah mulai pusing? Baca no 6

16. masih belum ngerti ya?? baca no 12

17. ah malu nich!!, baca no 7

18. gua gak tau, loe bakal ngerti apa gak!! Tolong baca no 10

19. Baca no 11 Dengan tenang ya,, ntar loe tau ndiri.

20.Sekarang gua ngomong deh, baca no 14 pelan-pelan ya



21. gak jadi ngomong wez !!! "MATA PUSING" @_@
Designed by Animart Powered by Blogger