Ini aku dengan rasa yg biasa saja.
Tak terlalu manis memang.
Hanya sebatas akar alang2.
Terkadang hanya payaunya.
Nasib tinggal sendirian. Tiap hari cuma makan nasi putih.
..
..
..
..
Ditambah bawang sedikit, sayur sedikit, garam sedikit, kecap, ayam suir dan telor. Terus digoreng pake margarin.
..
..
..
Entah mengapa orang2 menyebutnya nasi goreng?
Dulu saat masih kecil, kami tidak menyebutnya kehujanan. 
Kami lebih suka menyebutnya mandi hujan.

FIKSI MINI : Selingkuh



“Sayank”
Cuaca cukup terik siang ini. Aku memaku sejenak di depan kaca penuh warna. Sekedar memalingkan pikiran dari rutinitas. Lalu aktivitasmu tertera dalam daftar bacaanku dengan komentar yang bersambut tanggapan darimu. Kalian saling sapa "sayank". Aku pun kembali pada rutinitasku.

Offline
Kemarin aku nelpon kamu. Tapi lima kali panggilanku tak pernah kau jawab. Entah kesibukan apa yang kau geluti. Hingga sms dan BBM tak pernah pula kau hiraukan. Semula berpikir bahwa mungkin Handphonemu hilang. Tapi akun Whatsappmu seringkali online. Aku merasa kamu berubah sejak menikah dengannya.

Dukung Dahlan Iskan Mundur Konvensi

Merdeka.com edisi senin, 13 Januari 2013 mengangkat judul “Konvensi Partai Demokrat Makin Kisruh dan Tak Jelas“. Hal ini terkait salah satu tim komite audit survei konvensi, Hamdi Muluk keluar karena tak ada surat keputusan pengangkatan oleh Demokrat.
Sungguh ironis ketika sebuah partai besar masih melakukan kesalahan dalam hal teknis. Diluar konteks sengaja atau tidak, kejadian ini tentu memberikan kesan buruk bagi partai dan mengecewakan bagi Hamdi Muluk.
Pada situs yang sama Efendi Ghazali, anggota Komite Konvensi Demokrat mengatakan “Secara umum jika benar demikian, terutama memang tidak ada SK pengangkatan Tim Audit Survei, itu benar-benar keterlaluan dan relatif menghina akademisi yang berintegritas seperti Prof. Hamdi Muluk.”
Bertolak dari kekisruhan ini, saya coba kembali menimbang keikutsertaan Dahlan Iskan dalam “audisi” Capres Partai Demokrat. Sejauh ini DI tetap memiliki elektabilitas tertinggi di antara peserta konvensi lainnya. Namun begitu, saya akan sangat mendukung seandainya DI mundur dari ajang Konvensi Partai Biru ini.
Ada beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan. Pertama, isu penjegalan pencalonan DI melalui kenaikan harga gas elpiji beberapa waktu lalu. Jika isu ini benar, tentu menjadi gambaran bahwa DI tidak diharapkan menang oleh elit partai dan orang-orang yang berkepentingan. Untuk apa DI berada dilingkungan yang tidak menerimanya. Sedangkan lingkungan yang lebih besar siap menyambutnya dengan tangan terbuka.
Kedua, elektabilitas DI yang tetap tinggi menunjukkan pesona DI telah diterima di masyarakat. DI telah dikenal masyarakat jauh sebelum ia menjadi peserta konvensi. Bahkan Presiden SBY pun mengakui kerja keras DI dengan mengangkatnya sebagai Mentri BUMN. Jadi, sekalipun tidak melalui Partai biru, bukan tidak mungkin DI akan tetap didukung maju sebagai capres melalui partai-partai lain.
Ketiga, Kader-kader partai biru banyak terjebak dalam kasus korupsi. Ibarat pepatah dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung, bukan tidak mungkin jika DI juga dapat terjebak dalam lingkaran sistem korupsi. Mengingat partai penguasa tentu akan menjadi sorotan bagi para penegak hukum.
Keempat, DI hanya akan menjadi penyambung lidah bagi Demokrat. Partai Demokrat telah berkuasa selama dua periode. Tentu mereka tak ingin kehilangan kekuasaannya. Terlebih mengubah gaya kepemimpinan yang sudah terbentuk dengan gaya baru DI. Sehingga akan sangat mungkin DI akan diinterfensi jika berhasil menembus RI 1.
Untuk itu, akan sangat disayangkan jika salah satu putra terbaik bangsa berada dalam lingkungan yang kurang baik. Potensi DI dalam membangun nusa dan bangsa mestilah diberdayakan secara baik dan tepat. Partai besar tidak hanya Partai Demokrat. Jalan menuju Capres tidak hanya Konvensi.
Referensi :
http://www.merdeka.com/politik/konvensi-partai-demokrat-makin-kisruh-dan-tak-jelas.html

SEPIRING SERIPING



Aku duduk di teras rumah. Menjulurkan kaki ke atas meja dengan segelas teh hangat tepat berada di sebelah kanan kakiku. Perbukitan indah menghijau di belakang rumah tak kunikmati. Aku lebih suka memandangi lalu lalang ibu-ibu menghampiri tukang sayur keliling yang mereka panggil Mang Ujang.

Dari kejauhan ku dengar pula kikik mereka usai membicarakan Bu Priyo yang menang undian mobil namun ternyata hanyalah undian bohong dari sebuah produk kopi sachet. Lalu salah seorang mengajak ibu-ibu yang lainnya menunduk dan berbicara berbisik. Aku lihat matanya melirik ke arah seberang rumahku. Seorang wanita muda tengah menyiram bunga di pot-pot hitam pekarangan rumahnya. Siska, yang telah menjadi rahasia umum sebagai wanita simpanan pejabat.

Siska memang sangat cantik. Tubuhnya pun molek bukan kepalang. Tak heran jika pejabat dengan tiga isteri sekalipun jatuh hati padanya.

Tapi bukan Siska yang sepenuhnya menarik perhatianku selama dua minggu ini. Seorang ibu menggendong anaknya yang setiap pagi melintas di depan rumahku. Anehnya aku tidak pernah melihat ia menuju ke arah sebaliknya. Seolah dia pergi tanpa pulang, tapi esok pagi ia pergi lagi.

Aku baru dua minggu pindah ke komplek perumahan ini. Distributor makanan ringan tempatku bekerja membuka cabang baru, dan aku ditugaskan untuk menjadi kepala cabang di kota ini. Aku belum berkeluarga, sehingga tak masalah bagiku jika sesekali di waktu sore hari aku sedikit nakal menggoda siska yang sedang duduk yoga di dekat kolam renang samping rumahnya.

“Sudah jam delapan. Mana ibu itu? Kok belum terlihat”
Baru usai aku bergumam. Seorang wanita melintas. Ya, seperti biasa, anaknya ia gendong di punggungnya dengan kain abu-abu yang mulai lusuh sebagai pengikat. Tangan kanannya memegang sebuah piring. Ia melangkah tergesa-gesa diburu waktu.

Aku berniat menghampirinya. Namun kakiku menyentuh gelas di atas meja. Aku kaget kepanasan dan mengelap kakiku dengan lap kaki yang ada di dekat pintu. Ketika melihat ke jalan, ibu itu sudah tak terlihat lagi. Hanya Mang Ujang yang telihat mendorong gerobaknya yang mulai kosong.

“Mang ujang” teriakku menghentikan mang ujang.
“Wanita yang baru saja lewat, mang ujang kenal?” Tanyaku.
“Oh, itu mbak Darsih. Tinggal di ujung komplek dekat kuburan. Dia tinggal dengan tiga orang anaknya” Terang Mang Ujang.
“Suaminya?”
“Suaminya pergi sekitar setengah tahun yang lalu. Sejak itu setiap hari dia berjualan seriping pisang. Sudah dulu ya. Saya mau keliling lagi” Tukas Mang Ujang

Seriping pisang adalah sebutan masyarakat Sumatera Selatan untuk keripik pisang yang digoreng tipis. Biasanya sebelum di goreng direndam dalam air garam agar lebih gurih. Dan Mbak Darsih sangat dikenal dengan seriping pisangnya. Karena itu ia seringkali disebut Darsih Seriping.

Penjelasan Mang Ujang tak surutkan rasa penasaranku. Aku bergegas mengikuti arah wanita itu berjalan. Jika aku sedikit berlari kecil, mungkin aku bisa mengejarnya.

Dan benar saja, ia terlihat di ujung komplek. Berdiri di depan pagar sebuah rumah. Ia menyerahkan piring ditangannya. Dan seorang ibu tua memindahkan isi piring ke piring yang lainnya. Lalu mengembalikan piring sambil memberikan uang kepada Mbak Darsih.

Seperti yang dikatakan Mang Ujang. Sepertinya Mbak Darsih menjual seriping pisang yang dibawanya kepada ibu tua di rumah itu.

Mbak Darsih mulai berjalan lagi. Ia tidak berbalik ke arahku. Ia meneruskan langkah kakiknya ke arah yang sama. Dan aku tetap mengikutinya dari jauh. Kali ini ia kembali berhenti di sebuah warung kecil. Penjaga warung sepertinya telah hapal dengan Mbak Darsih. Ia menyerahkan pisang yang masih hijau kepada Mbak Darsih. Tidak banyak, hanya setengah sisir pisang.

Usai mendapatkan apa yang ia butuhkan, Mbak Darsih berlalu. Ia berbelok menuju rumahnya. Aku tetap mengikutinya sambil terus menghubungkan semua hal yang ku lihat di pagi ini.

Cukup jauh berjalan, akhinya Mbak Darsih sampai di rumahnya. Mungkin lebih layak dikatakan sebuah pondok. Pondok kecil dipinggir kuburan. Tepat berbatasan dengan pagar komplek yang bolong di salah satu sisinya. Di sisi yang bolong itulah Mbak Darsih masuk ke komplek menjual seriping pisangnya.

Seorang anak berumur 10 tahun menghampiri Mbak Darsih. Ia menggendong adiknya yang masih berumur 5 bulan yang sedang terlelap. Mbak Darsih menurunkan anaknya yang berumur 2 tahun dipunggungnya lalu beralih menggendong anak lainnya yang masih bayi. Mulailah aku mengerti kehidupan Mbak Darsih yang sebenarnya.

Mbak Darsih ditinggal suaminya ketika ia hamil tua. Untuk menghidupi dirinya dan ketiga anaknya, ia berjualan seriping pisang setiap harinya. Tidak dalam jumlah banyak. Uang yang Ia miliki hanya mampu untuk membeli setengah sisir pisang. Setengah sisir pisang itu hanya bisa dibuat menjadi sepiring seriping.

Setiap pagi ia menjual sepiring seriping itu. Separuh hasil penjualannya kembali ia belikan pisang mentah untuk dijadikan seriping. Separuh yang lainnya ia gunakan untuk membeli beras dan untuk ia tabungkan untuk membayar biaya persalinan anak ketiganya yang masih terhutang.

Masyarakat komplek dan sekitarnya bukan tak iba terhadapnya. Mbak Darsih selalu menolak bantuan dari siapapun. Ia merasa mampu untuk menghidupi dirinya dan ketiga anaknya. Ia selalu berkata bahwa suaminya di luar sana sedang bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Dan ia sangat yakin suaminya akan kembali dengan sejumlah uang untuk kehidupan keluarganya.

Sepertinya kehidupan Mbak Darsih akan tetap seperti ini untuk beberapa tahun berikutnya. Menggoreng seriping pisang di sore hari dan menjualnya di setiap pagi.

“Sepertinya aku akan makan sepiring seriping pisang setiap pagi” Gumamku sambil melangkah pulang melewati pagar bolong dekat rumah Mbak Darsih.

Lubuklinggau, 6 Januari 2014

Silver (lagi)

Pulang ke rumah langsung ambil notebook. Hal ini harus aku abadikan. Aku tak pernah tau seberapa ingatan ini akan bertahan. Cuma satu yang pasti akan selalu aku ingat. Senyummu.

Ya, setelah sekian lama tidak bertemu. Bahkan melihatmu yang terakhir kali aku sudah tak ingat lagi. Akhirnya di sore ini. Hanya bisa menatapmu dari halaman parkir deretan ruko di samping Rumah Bersalin.

Aku melihatmu dari seberang jalan. Meski lama tak bertemu, langsung terlintas di pikirankku bahwa itu benar-benar kamu. Detak jantungku pun mengiyakan. Tak salah lagi. Meski telah terlewat lima puluh meter dari tempatmu berdiri, kuputuskan untuk berhenti dan putar balik. Oh, tidak. Aku hanya akan menunggumu di halaman parkir itu saja. Hanya untuk memastikan bahwa memori dan jantungku masih menyimpan data tentang kamu.

Dan benar saja. Kamu mulai beranjak dari gerobak martabak depan toserba itu. Menaiki sepeda motor bersama pria yang tetap duduk di atas motor mungkin sejak kamu turun.

Aku menyiapkan kamera ponselku. sekedar mengabadikan kejadian langka ini. Ya, untuk bertemu denganmu adalah keajaiban yang harus aku tunggu. Seperti halnya menunggu bintang jatuh.

Tapi tak sempat kusiapkan semuanya. Pria bersamamu menarik gas sepeda motor dengan cukup bringas. Begitu cepat, kau telah siap melintas dihadapanku. Kaca helm ku biarkan terbuka agar kau pun dapat melihatku. 

Dan benar, kamu melihatku. Bagai mendapat sebuah undian, senyummu masih sangat manis kuterima. Aku gugup untuk membalas senyum itu. Bahkan aku lupa apakah aku telah membalas senyummu itu atau tidak.

Tapi entah mengapa, aku merasa ada yang berbeda dengan akhir dari senyummu. Seolah kamu merasa bahwa pria bersamamu melihat bahwa kamu tersenyum ke arahku. Dan kamu takut dia tidak menyukai itu. Mengapa?

Kamu mulai berlalu. Tak lama aku berpikir. Akupun menyalakan mesin kendaraanku. Aku membuntutimu.

Entah apa yang mendasari tindakan itu. Yang pasti aku hanya ingin tetap melihatmu hingga akhirnya aku tak bisa lagi melakukan itu. Ya, aku terus menatapmu dari belakang.

Sekali kamu menoleh ke arahku. aku mengurangi laju. Tak ingin terlalu dekat denganmu. Tak ingin mengganggu agenda jalan-jalan sore kalian. Aku hanya ingin sekedar melihatmu.

Aku memperhatikanmu. Mencari tahu perubahan apa yang ada padamu. Senyummu masih semanis dulu. Mungkin candamu tetap terjaga hingga tak mengurangi kualitas kebahagiaanmu. Postur tubuhmu masih ramping seperti dulu. Tapi sepertinya kamu agak lebih tinggi. :) :p

Oh. Waktu tak berpihak. Simpang tiga lampu merah mengharuskan aku belok ke kanan. Sedangkan kamu tetap lurus menuju arah rumahmu.

Sepanjang jalan, tetap saja terlintas senyum bibirmu. Tanganku lemas. Aku harus memprioritaskan salah satu tangan untuk mengendalikan kendaraanku. Jika keduanya memegang kemudi, aku khawatir tidak akan sanggup. Tangan kananku memegang gas, tangan kiri memegang tangan kanan. Jantungku??? ah, aku hampir tak merasai detaknya.

Tentang pria itu? aku tidak tahu hubungan kalian. dan aku tidak mau tahu.

Lubuklinggau, 21 Desember 2013 17.00 s.d. 18.00

TERSESAT

Aku lalai di jalah hidup
Sehingga aku terperosok di jurang yang dalam
Aku tersesat di jalan yang lurus
Dan kini menunggu menderita

Dan hari ini pula
Kutinggalkan semua angan
Serta meletakkan hati yang amat kecil
Aku berharap keajaiban
Membawaku ke masa kecil kembali

Dan kini mulai terasa
Kelam menghampiri
Aku tak ingin seorang mengikutiku
Yang hanyut dengan kotornya air sungai
Yang tak tahu di mana muaranya

ditulis oleh : Panji Persada

SURAT PEMBACA : IRENE



“Mawar yang ku taburkan semerbak menyelubungi langit sendu. Mendung membawa angin dingin meniup kelopak mawar dengan daun hijaunya. Beberapa helai kelopak kamboja diatas pusara berguguran. Memberikan putih diatas merah mawar yang basah. Titik-titik hujan mulai membumi. Sedikit demi sedikit aku basah lalu pergi.”
Kutipan dari cerpenku yang berjudul yang meraih juara tiga lomba menulis tingkat provinsi Sumatera Selatan. Aku bahagia bukan kepalang. Cerpen pertama yang aku ikutkan dalam sebuah kompetisi menulis langsung meraih juara. Meski hanya juara ketiga.
Aku sangat suka menulis. Sejak SMP aku dan dua orang teman sekelasku, Irene dan Tasya seringkali saling bertukar surat. Membicarakan Pak Suwarno, guru Matematika yang super galak. Menggosipkan Putri yang menjadi “Ratu Gosip” di sekolah. Ataupun curhat tentang Randi, Ketua OSIS yang sangat aku kagumi.
Hingga aku di bangku SMA saat ini pun aku masih suka menulis. Walaupun tidak lagi menulis surat untuk teman-temanku. Karena sejak lulus SMP kami berpisah tanpa tahu alamat masing-masing.
***
“Cerpenmu sangat indah. Aku sangat menyukainya. Aku sangat ingin membaca karya-karyamu lagi. Semoga kita bisa menjadi sahabat, ya. Salam hangat, Irene”
Sebuah surat pembaca kuterima. Wah, rasanya sangat bahagia membaca surat pertama dari pembaca cerpenku. Motivasi untuk menulisku meledak luar biasa.
Akupun menginginkan untuk bersahabat dengan pembacaku. Suratnya langsung ku balas.

BUKAN MANUSIA SETENGAH DEWI



“Kemarin Aku tidak sempat memperkirakan hari ini. Dan hari ini Aku belum sempat berpikir untuk esok. Tapi hari ini Aku teringat hari kemarin. Maka hari ini takkan kubuat mawar menangis. Agar esok Aku dapat mengingat mawar indah hari ini” tulis Mala dalam blognya.
Mala seorang blogger muda. Ya, Dia muda. Dan Dia cantik. Rambut hitamnya panjang bergelombang. Parasnya tak usah diterka-terka, yang jelas dia cantik. Itu saja.
Rotasi waktu membawanya pada terik yang menyengat. Rumah kost-nya tanpa pendingin ruangan - terkadang cicak yang sedang merayappun gosong terbakar. Tapi Mala takkan terpanggang. Seorang pemuda siap menjemputnya. Mengajaknya dating di minggu ceria itu.
“Mala. Aku jemput kamu sekarang ya” pesan masuk di ponsel Mala.
Mala menutup notebook-nya. Ia bergegas mandi. Ya, jangan pernah berharap Mala akan mandi di pagi hari. Ia tidak bisa dipaksa untuk dua hal. Salah satunya dipaksa mandi pagi.
Designed by Animart Powered by Blogger