Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

SEPIRING SERIPING



Aku duduk di teras rumah. Menjulurkan kaki ke atas meja dengan segelas teh hangat tepat berada di sebelah kanan kakiku. Perbukitan indah menghijau di belakang rumah tak kunikmati. Aku lebih suka memandangi lalu lalang ibu-ibu menghampiri tukang sayur keliling yang mereka panggil Mang Ujang.

Dari kejauhan ku dengar pula kikik mereka usai membicarakan Bu Priyo yang menang undian mobil namun ternyata hanyalah undian bohong dari sebuah produk kopi sachet. Lalu salah seorang mengajak ibu-ibu yang lainnya menunduk dan berbicara berbisik. Aku lihat matanya melirik ke arah seberang rumahku. Seorang wanita muda tengah menyiram bunga di pot-pot hitam pekarangan rumahnya. Siska, yang telah menjadi rahasia umum sebagai wanita simpanan pejabat.

Siska memang sangat cantik. Tubuhnya pun molek bukan kepalang. Tak heran jika pejabat dengan tiga isteri sekalipun jatuh hati padanya.

Tapi bukan Siska yang sepenuhnya menarik perhatianku selama dua minggu ini. Seorang ibu menggendong anaknya yang setiap pagi melintas di depan rumahku. Anehnya aku tidak pernah melihat ia menuju ke arah sebaliknya. Seolah dia pergi tanpa pulang, tapi esok pagi ia pergi lagi.

Aku baru dua minggu pindah ke komplek perumahan ini. Distributor makanan ringan tempatku bekerja membuka cabang baru, dan aku ditugaskan untuk menjadi kepala cabang di kota ini. Aku belum berkeluarga, sehingga tak masalah bagiku jika sesekali di waktu sore hari aku sedikit nakal menggoda siska yang sedang duduk yoga di dekat kolam renang samping rumahnya.

“Sudah jam delapan. Mana ibu itu? Kok belum terlihat”
Baru usai aku bergumam. Seorang wanita melintas. Ya, seperti biasa, anaknya ia gendong di punggungnya dengan kain abu-abu yang mulai lusuh sebagai pengikat. Tangan kanannya memegang sebuah piring. Ia melangkah tergesa-gesa diburu waktu.

Aku berniat menghampirinya. Namun kakiku menyentuh gelas di atas meja. Aku kaget kepanasan dan mengelap kakiku dengan lap kaki yang ada di dekat pintu. Ketika melihat ke jalan, ibu itu sudah tak terlihat lagi. Hanya Mang Ujang yang telihat mendorong gerobaknya yang mulai kosong.

“Mang ujang” teriakku menghentikan mang ujang.
“Wanita yang baru saja lewat, mang ujang kenal?” Tanyaku.
“Oh, itu mbak Darsih. Tinggal di ujung komplek dekat kuburan. Dia tinggal dengan tiga orang anaknya” Terang Mang Ujang.
“Suaminya?”
“Suaminya pergi sekitar setengah tahun yang lalu. Sejak itu setiap hari dia berjualan seriping pisang. Sudah dulu ya. Saya mau keliling lagi” Tukas Mang Ujang

Seriping pisang adalah sebutan masyarakat Sumatera Selatan untuk keripik pisang yang digoreng tipis. Biasanya sebelum di goreng direndam dalam air garam agar lebih gurih. Dan Mbak Darsih sangat dikenal dengan seriping pisangnya. Karena itu ia seringkali disebut Darsih Seriping.

Penjelasan Mang Ujang tak surutkan rasa penasaranku. Aku bergegas mengikuti arah wanita itu berjalan. Jika aku sedikit berlari kecil, mungkin aku bisa mengejarnya.

Dan benar saja, ia terlihat di ujung komplek. Berdiri di depan pagar sebuah rumah. Ia menyerahkan piring ditangannya. Dan seorang ibu tua memindahkan isi piring ke piring yang lainnya. Lalu mengembalikan piring sambil memberikan uang kepada Mbak Darsih.

Seperti yang dikatakan Mang Ujang. Sepertinya Mbak Darsih menjual seriping pisang yang dibawanya kepada ibu tua di rumah itu.

Mbak Darsih mulai berjalan lagi. Ia tidak berbalik ke arahku. Ia meneruskan langkah kakiknya ke arah yang sama. Dan aku tetap mengikutinya dari jauh. Kali ini ia kembali berhenti di sebuah warung kecil. Penjaga warung sepertinya telah hapal dengan Mbak Darsih. Ia menyerahkan pisang yang masih hijau kepada Mbak Darsih. Tidak banyak, hanya setengah sisir pisang.

Usai mendapatkan apa yang ia butuhkan, Mbak Darsih berlalu. Ia berbelok menuju rumahnya. Aku tetap mengikutinya sambil terus menghubungkan semua hal yang ku lihat di pagi ini.

Cukup jauh berjalan, akhinya Mbak Darsih sampai di rumahnya. Mungkin lebih layak dikatakan sebuah pondok. Pondok kecil dipinggir kuburan. Tepat berbatasan dengan pagar komplek yang bolong di salah satu sisinya. Di sisi yang bolong itulah Mbak Darsih masuk ke komplek menjual seriping pisangnya.

Seorang anak berumur 10 tahun menghampiri Mbak Darsih. Ia menggendong adiknya yang masih berumur 5 bulan yang sedang terlelap. Mbak Darsih menurunkan anaknya yang berumur 2 tahun dipunggungnya lalu beralih menggendong anak lainnya yang masih bayi. Mulailah aku mengerti kehidupan Mbak Darsih yang sebenarnya.

Mbak Darsih ditinggal suaminya ketika ia hamil tua. Untuk menghidupi dirinya dan ketiga anaknya, ia berjualan seriping pisang setiap harinya. Tidak dalam jumlah banyak. Uang yang Ia miliki hanya mampu untuk membeli setengah sisir pisang. Setengah sisir pisang itu hanya bisa dibuat menjadi sepiring seriping.

Setiap pagi ia menjual sepiring seriping itu. Separuh hasil penjualannya kembali ia belikan pisang mentah untuk dijadikan seriping. Separuh yang lainnya ia gunakan untuk membeli beras dan untuk ia tabungkan untuk membayar biaya persalinan anak ketiganya yang masih terhutang.

Masyarakat komplek dan sekitarnya bukan tak iba terhadapnya. Mbak Darsih selalu menolak bantuan dari siapapun. Ia merasa mampu untuk menghidupi dirinya dan ketiga anaknya. Ia selalu berkata bahwa suaminya di luar sana sedang bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Dan ia sangat yakin suaminya akan kembali dengan sejumlah uang untuk kehidupan keluarganya.

Sepertinya kehidupan Mbak Darsih akan tetap seperti ini untuk beberapa tahun berikutnya. Menggoreng seriping pisang di sore hari dan menjualnya di setiap pagi.

“Sepertinya aku akan makan sepiring seriping pisang setiap pagi” Gumamku sambil melangkah pulang melewati pagar bolong dekat rumah Mbak Darsih.

Lubuklinggau, 6 Januari 2014

SURAT PEMBACA : IRENE



“Mawar yang ku taburkan semerbak menyelubungi langit sendu. Mendung membawa angin dingin meniup kelopak mawar dengan daun hijaunya. Beberapa helai kelopak kamboja diatas pusara berguguran. Memberikan putih diatas merah mawar yang basah. Titik-titik hujan mulai membumi. Sedikit demi sedikit aku basah lalu pergi.”
Kutipan dari cerpenku yang berjudul yang meraih juara tiga lomba menulis tingkat provinsi Sumatera Selatan. Aku bahagia bukan kepalang. Cerpen pertama yang aku ikutkan dalam sebuah kompetisi menulis langsung meraih juara. Meski hanya juara ketiga.
Aku sangat suka menulis. Sejak SMP aku dan dua orang teman sekelasku, Irene dan Tasya seringkali saling bertukar surat. Membicarakan Pak Suwarno, guru Matematika yang super galak. Menggosipkan Putri yang menjadi “Ratu Gosip” di sekolah. Ataupun curhat tentang Randi, Ketua OSIS yang sangat aku kagumi.
Hingga aku di bangku SMA saat ini pun aku masih suka menulis. Walaupun tidak lagi menulis surat untuk teman-temanku. Karena sejak lulus SMP kami berpisah tanpa tahu alamat masing-masing.
***
“Cerpenmu sangat indah. Aku sangat menyukainya. Aku sangat ingin membaca karya-karyamu lagi. Semoga kita bisa menjadi sahabat, ya. Salam hangat, Irene”
Sebuah surat pembaca kuterima. Wah, rasanya sangat bahagia membaca surat pertama dari pembaca cerpenku. Motivasi untuk menulisku meledak luar biasa.
Akupun menginginkan untuk bersahabat dengan pembacaku. Suratnya langsung ku balas.

BUKAN MANUSIA SETENGAH DEWI



“Kemarin Aku tidak sempat memperkirakan hari ini. Dan hari ini Aku belum sempat berpikir untuk esok. Tapi hari ini Aku teringat hari kemarin. Maka hari ini takkan kubuat mawar menangis. Agar esok Aku dapat mengingat mawar indah hari ini” tulis Mala dalam blognya.
Mala seorang blogger muda. Ya, Dia muda. Dan Dia cantik. Rambut hitamnya panjang bergelombang. Parasnya tak usah diterka-terka, yang jelas dia cantik. Itu saja.
Rotasi waktu membawanya pada terik yang menyengat. Rumah kost-nya tanpa pendingin ruangan - terkadang cicak yang sedang merayappun gosong terbakar. Tapi Mala takkan terpanggang. Seorang pemuda siap menjemputnya. Mengajaknya dating di minggu ceria itu.
“Mala. Aku jemput kamu sekarang ya” pesan masuk di ponsel Mala.
Mala menutup notebook-nya. Ia bergegas mandi. Ya, jangan pernah berharap Mala akan mandi di pagi hari. Ia tidak bisa dipaksa untuk dua hal. Salah satunya dipaksa mandi pagi.

BARU BERNYAWA, BELUM MERAH



Tangan ayah mendarat lagi di pipi Bunda. Mereka kembali bertengkar dengan permasalahan yang sama. Dengan pertengkaran yang serupa. Dengan kalimat cacian yang tak beda. Bunda tak pernah mau mengalah, sedangkan ayah terus memaksa. Keduanya yang tak mau dikatakan keras kepala. Terus bertahan dengan ego.
Ayah berlalu pergi. Langkahnya tak ragu. Meninggalkan Bunda dengan air mata meraih sofa di ruang tamu. Bunda terduduk menutup wajahnya yang basah. Sedang aku hanya mampu mendengar isaknya. Tanganku belum berdaya untuk menghapus air matanya. Bahkan sekedar untuk mengatakan “Bunda jangan menangis”, aku pun tak sanggup.
Lembut bunda mengelusku. Tangannya bergetar. Rasa takutnya membuat detak jantungku kian kencang. Ingin pula ikut menangis bersama Bunda, Namun air mata bunda telah cukup untuk mewakili tangisku. Hanya rasa benciku yang belum terlampiaskan. Rasa benci pada seorang pria yang tega membuat wanita cantik ini meneteskan air mata.
Ya, Bundaku sangat cantik. Rambutnya panjang menyusuri liuk punggungnya. Parasnya elok cerminan kesempurnaan ciptaan Tuhan. Mata bulatnya gambaran sosok wanita cerdas memandang masa depan penuh keyakinan. Betapa tidak seorang eksekutif muda begitu terpanah olehnya.
Beberapa kali Bunda bercerita bagaimana ia pertama kali berkenalan dengan ayah. Saat itu Bunda tengah kuliah tingkat akhir di jurusan Manajemen Bisnis Universitas Sriwijaya. Sebuah Universitas ternama yang menjadi cita-cita pelajar se-Sumatera Selatan.

MELATI DI SEPENGGALAN MATAHARI



Satu letusan menggema dan pria tua itupun jatuh tersungkur. Aku hanya mampu mengintip di balik tong sampah. Menghindari lesatan amunisi para penjajah. Sembunyi dari granat-granat yang betebaran hilir mudik berganti.
Pria tua itu berpaling ke arahku. Tubuhnya terkelungkup memeluk tanah air. Tubuh tuanya bersimbah darah. Dari kejauhan ku lihat kilauan di matanya. Perlahan mengaliri pipinya yang kotor. Tatapan mata yang bersuara memanggilku, meminta pertolongan. Raut wajahnya menahan kesakitan yang luar biasa. Peluru telak menembus ulu hatinya.
Kini aku berdiri, di antara dentum yang pekakkan telinga. Beranjak menunduk menghampiri pria tua yang tersungkur. Aku berdiri tepat di pangkal lorong jalan rambutan, persimpangan kecil di tengah kota penghasil kopi. Rempah yang menjadi alasan klasik para pedagang asing mampir ke bumi pertiwi kami.
Keelokan tanah kartini, berbaris bukit hijau memagari tanah subur nan cantik. Cukuplah pucuk kayu kami tancapkan ke tanah, tunggulah beberapa bulan maka akan kami dapatkan berkah yang berlimpah. Cukuplah batu kami lemparkan ke pesisir, tunggulah beberapa bulan, karang nan rupawan menghiasi lautan. Mungkin kekuasaan alam inilah yang mereka idamkan. Keindahan dan kesuburan alam yang tidak ada di tanah kelahiran mereka.

MELATI DI WAKTU SUBUH



Suara itu kian renta. Bergetar diantara dedaunan beku berlapis embun. Meneriakkan kebesaran Tuhannya bersambung syahadat yang berulang. Aku kenal betul suara itu, yang setahun ini berkumandang di tiap subuh. Tak juga merdu, namun cukup mengganggu untuk memaksa hamba terjaga dan bersujud kepada Tuhannya.
Aku terjaga. Mengutuk parau suara muazin yang telah menghanyutkan keindahan Pantai Panjang, meski hanya dalam mimpi. Ingin rasanya ku cabik ayam-ayam yang menyahut pergantian malaikat dengan kokok liarnya.
Kini aku merenung, menatap langit-langit kamar yang hanya berlapis triplek tak bercat. Mengerutui muazin yang kian melengking tak karuan. Meneriakkan shalat mengajak pada kemenangan. Entah kemenangan apa yang ingin ia capai. Negara ini sudah merdeka, Islam sudah mendunia, Idul fitri setiap tahun.
Terlebih tak pula baik tabiatnya. Aku kenal betul siapa Dia. Dialah preman penguasa pasar terminal atas era 90-an. Pengedar narkoba tak mempan senapan aparat. Seorang Pemalak yang setiap hari mabuk, lupa anak istri jadi melarat. Ia juga yang menyebabkan istrinya tewas akibat persaingan bisnis barang haram.

RESENSI BUKU KUMPULAN CERPEN



BUKAN PINANG DIBELAH CINTA 

Judul Buku             : Bukan Pinang Dibelah Cinta 
Pengarang              : Elida Nurhabibah 
Penerbit                 : Benny Institute, Lubuklinggau 
Tahun                     : 2013, Cetakan ke-1 Februari 2013 
Jumlah Halaman     : 112 halaman 
Jenis Karangan       : Fiksi

Pengarang buku Bukan Pinang Dibelah Cinta, Elida Nurhabibah, adalah seorang gadis keturunan melayu palembang. Ia memilih Sahifah Sirath sebagai nama pena-nya. Gadis 22 tahun ini telah memiliki berbagai prestasi sejak tingkat Sekolah Dasar. Buku Bukan Pinang Dibelah Cinta ini adalah kumpulan cerpen tunggal perdananya. Karya-karya sebelumnya telah dimuat dalam berbagai media massa dan beberapa buku antologi semisal Disebuah Ruang Kuliah Seorang Guru Bercerita (2009) dan Banditku Sayang (2010).

Buku Bukan Pinang Dibelah Cinta memuat 10 cerpen, yaitu : Legenda Lubuklingga, Bukan Pinang Dibelah Cinta, Sayap-sayap Pengiring, Kisah Putik yang Memintal Purnama-purnama, Akar Cermin, Bukit Sulap, Wajah Kekasih, Jerat Napas Terpaut Lepas, Silampari dan Hasrat Dara. Cerpen-cerpen tersebut ditulis sejak tahun 2009 hingga tahun 2013.

Serial Gadis Pemakan Tomat (Tongkat Untuk Pika)

Disiang itu, matahari tak mau berkompromi untuk memberikan hangatnya. Sinarnya begitu membakar setiap benda dibumi. Cuaca yang tak bersahabat tak membuat sekumpulan remaja mengurungkan niatnya untuk mengelilingi kota kecil itu.

“Dedi, aku tantang kamu. Kita lihat siapa yang lebih cepat sampai ke taman kota.” Ujar Pika sambil melahap buah tomat berwarna merah segar digenggamannya.
“Yang kalah harus mentraktir yang menang, bagaimana.” Jawab Dedi.
“Kalau begitu persiapkanlah kau mengeluarkan isi dompetmu yang tak seberapa itu” Ujar pika.

Keduanya sepakat untuk berlomba balap sepeda hingga taman kota. Teman-teman mereka hanya memberikan semangat bagi keduanya.

Aba-aba telah diberikan dari pinggir lintasan. Sontak kaki Pika dan dedi mengayuh pedal sepedanya hingga melaju kencang. Jarak satu kilometer harus mereka lalui untuk sampai ke garis pinish. Raut kegembiraan terpancar dari keduanya. Mereka berusaha menikmati perlombaan itu dengan saling ejek satu dan lainnya.

Namun kegembiraan tak berlangsung lama. Dedi mendadak menghentikan sepedanya setelah mendengar suara yang begitu keras dibelakangnya. Suara bersambut jeritan kesakitan begitu mengganggu telinganya. Ia berbalik dan mendapati Pika terkapar di tengah jalan.

Langkah kaki Dedi terasa berat melihat temannya berlumuran darah. Sedangkan Pika terus saja menjerit kesakitan sambil memegang kakinya.

“Pika. Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?” Ujar Dedi.

Pika tetap mengekspresikan rasa sakitnya dengan jeritan. Ratapan kesakitan berhenti seiring dengan Pika yang tak sadarkan diri karena kehilangan banyak darah. Hal itu membuat Dedi meneteskan air mata. Dedi yang sedang kebingungan segera dikerumuni masyarakat yang berada disekitar tempat itu dan segera membawa Pika ke Rumah sakit terdekat.

Dua hari berlalu, Pika baru sadarkan diri. Ditatapnya wajah orang-orang disekitarnya yang begitu memancarkan rona kecemasan.

“Pika. Kau sudah sadar.” Ujar Ibunya.

Pika hanya diam tak menjawab. Ia menyadari keberadaannya di Rumah sakit dan mencoba mengingat kejadian yang menyebabkan ia berada disana. Ia mencoba bangun dari tempat tidur untuk meyakinkan orang-orang disana bahwa ia baik-baik saja.

Kakinya menyentuh lantai dan seketika itu pula raut wajahnya berubah. Raut wajah yang menunjukkan rasa sakit yang sulit terbendung. Pikapun yang tak sanggup menahan rasa sakit itu terjatuh dilantai. Kontan saja hal itu membuat orang-orang yang berada ditempat itu panik dan membawa pika kembali ke tempat tidur.

Dokter yang segera datang bersama Ayah Pika memeriksa kaki Pika.

“Maaf Pika, meski sulit diterima saya harus memberitahukan hal ini. Untuk sementara kamu tidak bisa menggunakan kaki kananmu. Mungkin butuh beberapa waktu bagimu untuk berjalan lagi seperti biasa” Ujar dokter.

Semuanya tersentak mendengar vonis dokter itu. Buah tomat kegemaran Pika terjatuh dari tangannya. Pika mencoba untuk tak mempercayai hal itu, namun rasa sakit di kakinya tak dapat ia pungkiri bahwa untuk sementara ia benar-benar lumpuh.

Pikirannya membawanya kembali pada masa dimana ia harus mengalami kelumpuhan itu. Pada saat dimana dedi mencoba menyalipnya dan membuat seorang pengendara mobil terkejut dan kehilangan kendali hingga menyerempet sepeda pika. Mungkin hal itu akan ia ingat seumur hidupnya. Hal yg lebih mengecewakan, Dedi dan keluarganya menghilang setelah kejadian itu. Mereka takut dipersalahkan asal kejadian ini.

Hari-hari berlalu dengan cepatnya. Namun semua itu terasa begitu berat bagi pika. Waktu terasa lambat dengan langkah kakinya yg tertatih-tatih. Meski semua orang mengetahu bahwa pika adalah wanita yg kuat dan tegar, namun tidak untuk hal ini. Ia benar benar merasa terpuruk. Ia telah masuk dalam terowongan gelap tanpa sedikitpun harapan untuk mendapatkan cahaya. Setidaknya itulah yg ia rasakan saat ini.

Pika duduk menatap langit di halaman belakang rumahnya. Tak lupa buah tomat kegemarannya menemaninya melewati hari itu. Buah berwarna merah segar itu telah menjadi kesukaannya sejak ia masih kecil. Buah itulah yg selalu diberikan oleh ibunya ketika pika menangis dimasa kecilnya.

Suasana begitu hening. Hingga tiba-tiba sebuah langkah kaki menghampirinya. Seorang pria duduk disamping pika. Dia bernama Radit, seorang anak yg cerdas di sekoah pika namun tersingkirkan dalam pergaulan karena ia hanya mampu berjalan dengan bantuan kaki palsu. Dan hanya pika yang menghargainya selayaknya anak normal lainnya.

“Sudah dua minggu kau tak masuk sekolah. Apa kau tidak takut ketinggalan pelajaran?” Ucap Radit.
“Untuk apa aku sekolah? Untuk mendapat pandangan sinis dari semua orang di sekolah? Untuk mendapatkan belas kasihan dari guru-guru? Seorang sarjanapun tidak akan berguna di masyarakat jika ia cacat” Ucap pika lirih.
“Sekarang aku telah terjatuh dalam lorong gelap tanpa sedikitpun harapan untuk mendapatkan sinar di ujung lorong itu. Aku hanya bisa meringkuk tanpa tahu apa yang harus ku perbuat. Dan hingga kapanpun tak ada satupun tangan yang dapat menggapai dan membawaku keluar dari lorong itu. Hanya di bahu Ibuku saja aku bisa berbagi air mataku ini. Dan hanya di dada Ibuku saja aku bisa sedikit menyandarkan tubuhku yang telah begitu lelah. Dan kau tak akan pernah mengerti apa yang aku rasakan” sambung pika.

Radit hanya memberikan senyum atas keluhan pika itu.

“Kau melupakan sesuatu, Pika. Kau lupa bahwa aku juga cacat. Sama sepertimu, kecelakaan telah merenggut hal yang ku pikir menjadi penentu langkahku untuk menggapai masa depan” Ucap Radit.

Pika tertunduk menatap kakiknya yang terbalut perban. Ia baru teringat bahwa Radit juga seorang yang cacat. Bahkan Radit harus benar-benar kehilangan kakinya setelah diamputasi. Penopang tubuhnya saat ini tak lebih dari sekumpulan logam yang dirakit oleh manusia, tidak seperti kaki pika yang merupakan ciptaan Tuhan dengan sempurna yang masih memiliki kemungkinan untuk sembuh.

“Tapi aku tak sekuat kau, Radit.” Ujar pika.
“Kau ingat saat aku terjatuh di lapangan karena belum terbiasa dengan kaki palsuku? Saat itu semua anak menenatap ke arahku. Yang aku lihat dari mereka saat itu mereka tertawa melihat penderitaanku. Hal itu membuatku merasa tersisihkan, aku merasa sendiri tanpa ada satu orangpun yang ikut merasakan perihnya lukaku. Tetapi kau datang dan memberikan tanganmu. Kau memberiku keyakinan bahwa masa depanku bukan ditentukan oleh kakiku, tetapi oleh hatiku.” Ucap Radit.
“Kau wanita terkuat yang pernah aku kenal, Pika. Aku tunggu kau esok pagi di sekolah” Tambah Radit yang kemudian berlalu pergi.

Pika tersentuh dengan kata-kata Radit. Ia teringat wajah Radit yang kala itu begitu terpuruk. Bagaimana tidak, Radit yang seorang pemain basket tidak akan bisa lagi menyentuh bola basket tanpa kakinya. Namun pika memberikan harapan baru bagi Radit. Pika meyakinkan Radit bahwa hidupnya belum berakhir. Dan kali ini Pika harus melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri.

Esok harinya, matahari bersinar cerah seperti biasa. Keramaian begitu tampak di sebuah sekolah. Terlihat anak-anak hilir mudik dengan tas yang dipanggulnya dan beberapa buku ditangan. Bunga-bunga bermekaran ditaman bersamaan dengan kian menetesnya embun pagi dari daun-daun hijau itu.

Mobil berwarna hitam berhenti perlahan didepan gerbang sekolah. Sepasang kaki secara perlahan turun dari mobil itu. Wanita setengah baya membantu seorang gadis cantik mengayunkan langkahnya melewati gerbang megah itu.

Gadis Cantik dengan seragam putih abu-abu itu adalah Pika. Rambutnya terurai dengan cantik. Rona wajahnya menunjukkan kecantikan khas wanita Indonesia. Membuat semua orang melupakan bahwa kaki gadis itu tidak lagi sempurna.

Langkah keduanya tiba-tiba terhenti. Pika menatap teman-temannya berdiri menyambutnya dengan senyum terhangat. Mencairkan bekunya pagi yang dingin itu. Di tengah-tengah mereka Radit berdiri dengan sebuah tongkat ditangannya. Ia berjalan menghampiri Pika dan memberikan tongkat itu untuk Pika.

“Mungkin kami tak akan selalu hadir disampingmu untuk menjadi penopang bagimu. Untuk itulah kami berikan tongkat ini untuk menunjukkan bahwa kami akan selalu berdiri bersamamu.” Ucap Radit.

Senyum Pika mengundang teman-temannya untuk memeluknya. Pelukan di pagi itu menjadi awal atas kembalinya semangat Pika.

Kini pika tak lagi sendiri di dalam lorong gelap. Ia melihat tangan Radit tiba-tiba hadir dihadapannya. Tangan itu tak sendiri, karena ada banyak tangan yang kemudian hadir untuk menuntun pika menuju cahaya di ujung lorong. Cahaya yang selama ini tak ia lihat karena matanya tertutup oleh air mata.

Menakjubkan, persahabatan membuat Pika mengalami kesembuhan dengan lebih cepat. Pika menyadari bahwa selama ini teman-temannya selalu ada disekelilingnya. Mereka adalah orang-orang yang hadir tak hanya saat pika tersenyum.

“Terima kasih Radit.” Ujar Pika dalam hati.

ANTARA HATI DAN PERASAAN

Matahari bersinar cerah siang itu ketika Siska duduk santai diatas ayunan halaman rumahnya. Pandangannya mengembara jauh tak tentu arah. Pikirannya mencoba mengendalikan dimensi ruang dan waktu. Sekilas ia teringat suara ayahnya berbicara melalui telepon tadi pagi.

“Siska, teman ayah punya anak seorang polisi. Ayah tidak bermaksud untuk menjodohkanmu dengan anak teman ayah itu. Tapi ayah hanya ingin kamu berkenalan dengannya. Jika memang kalian cocok, ayah akan sangat senang sekali. Jika tidak, yaa itu terserah kalian” Ujar ayahnya

“Huuuuhhh. Kenapa jadi begini sih. Belum selesai masalahku dengan Rio, sudah datang masalah baru. Sudah tahun 2011 kok masih ada perjodohan-perjodohan seperti ini” Gerutu Siska.

“Apalagi ayah bilang kalo dia akan datang malam ini” Siska bertambah kesal.

Gerutuan Siska ternyata tak banyak membantunya untuk mengurungkan niat ayahnya itu. Dan ia harus mau untuk berkenalan dengan polisi lulusan Akademi Kepolisian itu.

Siska, seorang cantik kembang desa yang tengah menuntut ilmu di perguruan tinggi swasta kota Palembang. Kekasihnya bernama Rio Pratama Putra, pria yang berhasil menambatkan hatinya sejak keduanya masih SMA. Namun kisah kasih itu harus terbatasi oleh jarak antara pulau Sumatera dan pulau Jawa.

Sayangnya kisah cinta Siska tak sesederhana yang ia bayangkan. Selain harus memilih antara Rio dan polisi bernama Raka yang akan dijodohkan padanya, ia pun telah menaruh simpati pada teman yang ia kenal sejak masuk dunia perkuliahan. Ialah Alif, seseorang yang begitu perhatian dan mengisi ruang hatinya sejak ditinggalkan Rio.

Matahari beranjak dari tingginya. Senja sampaikan jingganya pada birunya bumi. Siska bersiap-siap menyambut tamu istimewanya malam ini. Tak banyak hal spesial yang akan ia tunjukkan pada tamunya itu. Setidaknya ia tak akan tampil lebih cantik daripada yang ia tunjukkan pada Rio ataupun Alif.

Belum usai ia menata rambutnya ketika suara pintu terketuk mengagetkannya.

“Pasti orang itu” Duganya.

Ia beranjak membuka pintu. Dibukanya pintu dan tampaklah seorang dengan tubuh berdiri tegap berambut cepak. Tak diragukan lagi itulah tampilan seorang polisi muda yang memiliki prospek karir yang cemerlang. Senyumnya menyapa dengan manis, bersambut seuntai senyum Siska yang terperangah.

Siska tak mengajak tamunya itu masuk. Menjadi hal tabu baginya jika mengajak orang yang baru ia kenal masuk kedalam rumah. Akhirnya kedua duduk santai di kursi yang tertata rapi diteras rumah bertemankan rembulan yang siap mengawasi mereka hingga larut menjelang.

“Hai. Aku Raka. mungkin ayahmu sudah sedikit memperkenalkanku padamu” Sapa Raka.

“Ia. Ayah bilang kau baru dua tahun lulus dari akademi kepolisian” Ujar Siska.

Obrolan berawal hangat. Namun kehangatan itu tak dinikmati oleh Siska. Ia tak merasa nyaman dengan sikap Raka yang terkesan tidak sopan dimata Siska. Raka selalu mencoba duduk dekat dengan Siska. Dan hal itu membuat Siska merasa tak nyaman.

Ditambah lagi dengan sikap Raka yang sedari awal hanya membicarakan tentang dirinya sendiri. Harusnya hal itu dapat dimaklumi karena bukan hal mudah untuk diterima dan lulus dari akademi kepolisian. Namun itu membuat Siska merasa tak dihargai.

“Raka. Terima kasih atas kesediaanmu mengenalku. Aku menghargai itu. Namun ada hal yang perlu kau tahu. Aku sudah punya pacar. Sekarang ia sedang kuliah di Bandung. Dan aku sangat menyayanginya” Ujar Siska.

“Lalu bagaimana dengan niat kedua orang tua kita yang akan menjodohkan kita? Tidakkah kau menghargai keputusan mereka?” Tanya Raka.

“Aku memahami hal itu, dan bukan satu kali ini orang tuaku memperkenalakn anak temannya padaku. Begini saja, seandainya kau tak berniat mempermainkanku, cobalah kau curi hatiku, mungkin dengan begitu kita bias meneruskannya. Namun jika tidak, lebih baik kau lepaskan aku dari sekarang” Tawar Siska.

“Ternyata kau wanita yang cukup berkarakter. Aku suka dengan hal itu. Entah hal yang kebetulan atau tidak, aku juga mempunyai seseorang yang sedang menungguku. Dengan begitu sepertinya kita sepakat untuk tidak melanjutkan perjodohan ini. Aku akan jelaskan dengan baik-baik kepada orang tuaku dan orang tuamu” Jelas Raka.

“Terima kasih, Raka. Kau pria yang baik. dan wanita yang jauh lebih baik berhak mendampingimu” Ucap Siska mengakhiri perbincangan malam itu.

Malam kian larut. Rembulan kian menerangi malam yang dingin itu. Bintang-bintang pun berkerlipan. Rakapun pamit untuk pulang. Dan hal itu membuat Siska merasa senang. Helaan nafasnya menghantarkan Raka mengayunkan langkah demi langkah kaki.

“Huh. Akhirnya usai sudah untuk malam ini. Semoga tak ada hari esok seperti hari ini” Gumam Siska.

“Orangnya sih tampan. Andai aku tidak bersama Rio saat ini, mungkin saja hal yang berbeda akan terjadi. Tapi ya sudahlah. Aku mengistirahatkan tubuhku dulu untuk kuliah esok” Tambah Siska.

Sekecup sayang pada foto Rio melelapkan matanya. Seurai dongeng cintanya dengan Rio senantiasa membayangi tidurnya. Kerinduan yang mendalam pasca berpisahnya kedua insan ini menyisakan rindu yang teramat sangat. Setidaknya rindu itu akan menyesakkan jiwanya hingga ia bertemu dengan Alif esok hari.

***

Matahari menyapa pagi dengan sinar khasnya. Kehangatan menghapuskan dinginnya malam yang membekukan hati tiap insan. Kicau burung bersambut kokok ayam pecahkan heningnya bunga yang bermekaran. Di ujung jalan aktifitas manusia awali hari ini. Sementara itu, di sebuah rumah yang tak layak dibilang megah, sesosok wanita beranjak melangkahkan kakinya. Rambutnya terurai melambangkan kemuliaan kecantikan seorang wanita. Pesona anggun wajah khas wanita Indonesia menggambarkan kesetiaan, keramahan dan kesantunan menyerasikan busana yang kian menawan hati.

Ditepian jalan seorang pria duduk diatas motor menatap jam yang membalut lengan kirinya. Wajah gelisah menutupi kearifannya. Sesaat seorang wanita dengan tergesa-gesa menghampirinya.

“Hei. Sudah lama nunggu ya?” Tanya Siska.

“Cukup lama untuk menunggu tuan putri bersolek” Sindir Alif.

“Maaf, semalam aku tidur larut malam. Ada tamu menyebalkan yang datang kerumahku malam tadi” Jelas Siska.

“Echm. Ada tidak ada tamu bukannya kau selalu terlambat” Cela Alif.

“Hei. Kita mau berangkat atau menunggu sampai kau puas mengejekku” Ujar Siska.

Seperti biasanya Alif menjemput Siska sebelum berangkat ke kampus. Dan seperti biasanya pula, Siska membuat Alif menunggu hingga tak jarang keduanya tidak diperkenankan masuk kelas karena terlambat.

Kini keduanya melaju melintasi tiap meter kota kecil itu. Deru kendaraan bersambut deru kendaraan lainnya. Bumi kian panas karena menumpuknya karbon di ozon yang kian menipis. Udara segar tak menjadi asa yang pasti bagi masyarakat yang kian maju.

Siska melepaskan tangannya yang sedari tadi melingkari pinggang Alif. Keduanya turun dan bergegas menuju ruang kelasnya di lantai dua. Namun, sesampainya mereka dikelas, mereka tak mendapati teman-temannya yang sedang belajar. Hanya beberapa anak yang berkumpul dan berbincang ringan diselangkan dengan gelak tawa para pemuda-pemudi penerus bangsa itu.

“Hei. Tuh Raja dan Ratu telat sudah datang” celetuk salah seorang teman Siska.

“Tapi kalian beruntung. Si dosen killer gak masuk. Anaknya sedang sakit” Ujar yang lainnya.

“Huh, Untung saja. Bisa-bisa tepat tujuh kali aku dilarang masuk mata kuliahnya” ujar Alif menghela nafas sambil meletakkan tasnya diatas kursi.

“Alif, aku mau ngobrol sesuatu nih sama kamu” bisik Siska pada Alif sambil menarik tangannya.

Keduanya berbincang didepan kelas berpagar tinggi tak kurang dari satu meter itu. Sambil menatap para mahasiswa yang lalu lalang dilapangan basket di tengah kampus itu, Siska menceritakan tentang apa yang sedang melanda hatinya saat ini.

“Alif, malam tadi ada tamu datang kerumahku. Dia seorang polisi anak teman ayahku. Seperti pria-pria sebelumnya. Dia adalah orang yang ayah perkenalkan padaku untuk dijodohkan padaku” Ungkap Siska

“Lalu, kamu kembali mengusirnya?” Tanya Alif.

“Awalnya dia memang tidak menyenangkan. Tapi setidaknya dia cukup sopan daripada orang-orang yang sebelumnya” Terang Siska.

“Lalu, kau terima utnuk dijodohkan dengannya?” Tanya Alif lagi.

“Aku masih menunggu Rio. Kau tahu itu kan” Jawab Siska

“Jadi sampai sekarang kau belum bisa menerima bahwa Rio sudah tidak lagi di sisimu” Ujar Alif.

“Rio berkata bahwa ia pasti kembali. Dan aku telah berjanji untuk menunggunya. Kau tidak mau kan melihatku menjadi seorang yang ingkar janji. Lagipula………” ungkap Siska.

Belum sempat Siska menyelesaikan kalimatnya, handphone Alif bordering menyela pembicaraan mereka. Alif menerima telpon itu dan sedikit menjauh dari Siska. Senyum Alif menggambarkan rasa bahagianya berbincang dengan lawan bicaranya di telpon itu. Dan hal itu membuat Siska merasa diacuhkan. Telah seringkali Siska merasa cemburu dengan sikap Alif itu. Meskipun saat ini ia masih mengharapkan Rio kembali ke sisinya.

“Lagipula, dalam sepiku engkau selalu datang member aku kekuatan untuk tetap bertahan, Alif” Siska bergumam menyambung kalimatnya.

“Alif, ketulusanmu itu telah memaksaku. Memakuku pada tembok kebimbangan. Senyum itu memenjarakanku. Terperangkap pada keseimbangan hati dan perasaan. Membekukan eritrisot pada tiap bilik jantungku. Melipat arteri dan jalur vena. Namamu mengukir abadi pada otak kiriku. Hambatkan kaki untuk melangkah. Batasi hati untuk memilih. Ditiap cinta itu aku menanti sebuah tulus kemesraan. Sebutir oksigen untuk bernafas, berikan kesejukan pada kelenjar air mata. Diantara hangat ini ingin kutitipkan kepingan hatiku. Ku harap akan kau simpan atau justru akan kau rekatkan” Ujar Siska yang teru menata kearah Alif.

“Atas kecemburun ini aku hanya bisa mengatakan bahwa aku benci kamu, Alif” sambung Siska.

“Dan untuk Rio, aku tetap menunggumu meskipun aku tak yakin apakah aku satu-satunya cintamu” tambah Siska.

Siska masuk ke ruang kelas dengan perasaan yang tak tentu. Ia bingung dengan apa yang akan dilakukannya. Ia ragu dengan keputusan yang harus ia tentukan. Seorang yang jauh disana ia nantikan dengan penuh harap setelah ikatan yang mereka sebut pacaran mengikat keduanya untuk tidak mencintai pria ataupun wanita yang lain. Dan disini, Ia telah mengagumi pria yang lain. Ialah sosok pria yang berhasil mengobati luka hati Siska. Sehingga Siska punya alasan untuk terus bertahan. Namun orang yang sama telah membuatnya terpukul dengan menyaksikannya riang berbincang dengan lawan bicara ditelpon yang pernah dijelaskan Alif sebagai mantan pacarnya.

“Aku terjebak untuk memilih antara hati dan perasaan. Rio yang telah membawa pergi hatiku hingga ku luluh dan tidak ada alasan untuk berhenti mengharapkannya. Dan Alif telah menawanku dengan kearifan dan kebijaksanaannya. Dan dialah yang mengobati luka perasaanku hingga akupun tak punya alas an kuat untuk tak mengaguminya bahkan mencintainya. Namun pada akhirnya keduanya telah membuatku luka. Aku hanya mampu mengharapkan kisahku abadi. Memimpikan anganku sejati. Aku terperangkap dalam rasa yang tak tentu, terusir dari singgasana bahagia. Ketika jeritanku riada terdengar, ungkapan hatipun hanya deruan. Aku terhempas dalam logika tak tentu, terjerumus pada lubang ketidakpastian. Mampukah aku menanti jawaban tak pasti, menunggu seribu lagu dalam sembilu, khayalkan kasta itu berpangku rindu dan peluk hanyat terhanyut dalam kasih” Pikir Siska.

“Hei. Maaf aku harus menerima telpon dulu” Alif membangunkan Siska dari lamunannya.

“Oh. Bukan masalah” Jawab Siska.

“Dosen tidak masuk, kita keluar saja, yuk. Aku mau membicarakan sesuatu” ujar Alif.

“Tentang apa?” Tanya Siska.

“Kau hanya cukup ikut aku saja” Ujar Alif.

Alif mengajak Siska pergi meninggalkan kampus. Mereka pergi menuju taman kota.

Alif menggenggam tangan Siska dengan lembut. Jemari-jemarinya membuat aliran darah Siska semakin cepat. Beribu pertanyaan muncul dibenaknya tentang apa yang akan diutarakan oleh Alif di siang itu. Hijaunya pepohonan dan gemericik bunyi air mancur menjadi saksi atas apa yang akan terjadi beberapa detik kemudian.

“Siska, hampir satu tahun aku mengenalmu. Dan ada setitik denyutan asing pada jantungku. Aku coba mengabaikannya. Namun setiap menatap matamu, denyutan itu menghambat jalur pernafasanku. Aku coba mempelajari denyutan itu, dan akhirnya aku menyedari bahwa mungkin kaupun mengalami hal yang sama” Ucap Alif.

Hal itu membuat denyut jantung Siska makin tak beraturan. Ia hanya mampu terperangkap dalam retina mata Alif yang terus memandangnya.

“Namun, aku menyadari kau dan aku tak sama. Kau telah bersama Rio, dan aku tak ingin berada diantara kalian. Orang yang menelponku tadi adalah Rio. Aku memintanya pulang untukmu. Dan tidak lama lagi ia akan datang kemari” sambung Alif.

Hal itu membuat Siska tersentak. Membuatnya bertambah kagum pada Alif karena ketulusannya. Kakinya seolah tak sanggup menahan berat tubuhnya. Ia tak berdaya dengan apa yang telah dilakukan Alif. Entah ia harus senang atau justru menangis dengan kembalinya Rio kesisinya.

Deru suara mobil menghampiri mereka. Seorang pria tinggi 180 berkulit putih turun dari mobil itu. Sedikit senyumnya mencoba menyapa Alif dan Siska yang tak melepas genggaman tangannya.

“Itu pangeranmu sudah datang. Sekarang kau tidak akan lagi dipanggil Ratu Telat. Sekarang kau akan dipanggil Ratu Bahagia karena pangeran yang kau nantikan telah kembali dari perang panjangnya” ujar Alif pada Siska.

“Aku tak mengerti apa yang ada dipikiranmu. Tapi terima kasih ata semua yang telah kau lakukan” jawab Siska.

“Selamat datang kembali di kerajaanmu, Rio” ujar Alif pada Rio sambil mengulurkan tangannya. Dan itu membuat genggaman tangannya pada Siska terlepas.

Siska merasa tak kuasa menahan genggaman itu untuk tetap berada pada jemarinya. Kehadiran Rio tak membawanya untuk merasakan kembali cinta yang dulu pernah ia rasakan.

“Terima kasih, Alif. Kau telah menjaga permaisuriku. Entah apa yang harus kulakukan untuk membalasnya” ujar Rio pada Alif.

“Cukup dengan kau menjaga permata ini agar tidak kusam apalagi dicuri orang” balas Alif.

“Kau selalu bisa membalik kata-kataku dengan kata-kata yang lebih manis, Alif. Baiklah sekarang aku akan mengajak Siska pergi dulu. Kau tidak apa-apa kan?” Kata Rio.

“Tentu saja. Kau tau apa yang akan aku lakukan. Semoga kalian bahagia” Kata Alif.

Alif menyerahkan tangan Siska kepada Rio. Siska sedari tadi hanya berdiam diri tak tahu apa yang dilakukannya. Ia bagaikan putri salju tertidur yang belum mendapati pangeran menyadarkannya dari tidur panjang. Rio menerima tangan itu dan menggandengnya ke mobil berwarna biru itu.

Rio membukakan pintu dan mempersilahkan Siska masuk. Setelah Riopun masuk barulah Siska mengetahui bahwa kini Alifpun akan pergi meninggalkannya.

“Tidakkah kau mengucapkan selamat jalan pada Alif?” Tanya Rio.

Siska terkejut mendengarnya. Ia bingung tentang apa yang dimaksudkan oleh Rio. Ia segera turun dari mobil dan berlari kearah Alif yang berdiri menatap mobil itu.

Ayunan tangan Siska mendarat telak pada pipi kiri Alif. Alif tak kuasa menahan tamparan itu. Ia hanya tersenyum melihat Siska yang mulai menitikkan air mata. Tangan Alif menghampiri wajah Siska dan menahan air matanya agar tidak jatuh tepat dibawah dagu Siska.

“Kau mau pergi kemana?” Tanya Siska sambil terisak.

“Aku mendapat beasiswa di luar kota. Ayahku pun mendapat promosi jabatan pada kota yang sama” jawab Alif.

“Jadi kau tak akan kembali lagi. Lalu untuk apa kau meminta Rio pulang jika akhirnya kau harus pergi. Untuk apa kau ucapkan kata-kata manis itu yang telah membuat seluruh tubuhku bergetar. Untuk apa ketulusan yang kau berikan selama ini jika pada akhirnya harus engkau jadikan gunting untuk melukaiku. Untuk apa kau hadir dalam hidupku jika hanya sesaat lalu kau pergi lagi” Suara Siska meninggi.

Alif tak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Ia menggerakkan tangannya pada bahu Siska dan menariknya kepangkuannya.

“Buat ku selalu tersenyum dengan canda tawamu. Biarkanku buka semua cinta yang lama terpendam. Maafkan bila ku tak bisa menjaga dekapan hangat ini. Maafkan jika ku tak sanggup berikan cinta selamanya. Ingin ku selalu bersamamu dengan sejuta cintaku. Berharap adanya dirimu untuk bisa mencintaiku. Namun maafkan aku jika tak selamanya bersamamu. Dan maafkan aku jika hal ini menjadi yang terakhir yang mampu kuberikan. Maka maafkan aku yang tak mampu menjadi kebaikan terabadi. Hingga maaf ini terpatri pada visualisasi, dan hilang oleh kristalisasi, hingga terlahir kembali bersama reinkarnasi, maka ketahuilah selama itu aku menyayangimu” Kata Alif.

Seiring itu, dilepaskan dekapannya pada tubuh Siska. Ia berjalan menuju motornya yang terparkir pada sisi taman itu. Ditinggalkannya Siska tetap berdiri ditempat ia melepaskan pelukannya. Tubuh Siska kian melemah. Gravitasi bumi kian menarik tubuhnya untuk terjatuh. Namun Rio yang sedari tadi berada didalam mobil menahan tubuhnya untuk tetap berdiri. Keduanya menatap kepergian Alif dari tempat itu. Kian jauh tubuh Alif dari pandangan mereka, kian meneteslah airmata Siska menyirami rerumputan yang ia injak.

Malam harinya Alif berangkat menuju bandara. Kepergiannya diantarkan oleh beberapa teman kuliahnya dan tak ketinggalan Rio. Kini ia akan pergi beberapa ribu kilometer dari kota yang telah membesarkannya. Dan kepergiannya yang lama menyisakan seorang gadis dengan luka yang kembali terkoyak.

Siska tak ikut mengantarkan kepergian Alif. Luka yang ia derita tak ingin dibuatnya bertambah parah dengan melepas kepergian orang yang ia sayang. Siska hanya mampu terbaring lemah didalam kamarnya. Ia tetap tak mendapati jawaban atas keraguannya untuk memilih hati dan perasaan. Pada akhirnya perasaannya kepada seseorang telah menjadi bumerang dan melukai hatinya. Namun Rio telah kembali untuk membalut luka itu. Akankah Rio mampu merekatkan kepingan hati itu, atau justru menghanyutkan hati itu, waktu yang akan menjawabnya.

Designed by Animart Powered by Blogger