BIDADARI DI MOBIL MERCY

Siang itu terik begitu menyengat. Matahari seolah marah besar pada bumi yang kotor ini. Sengaja dibakarnya bumi ini untuk digantikan dengan planet lainnya. Entah dendam apa yang ada dibenak matahari siang itu.

Aku seorang anak muda kreatif putra kebanggaan bangsa Indonesia, setidaknya begitu kata Ibuku. Aku punya prinsip tak akan pernah bekerja pada orang lain. Bagiku bekerja pada orang lain tak lebih baik dari seorang pesuruh. Dan akupun tak mau bekerja sebagai abdi negara seperti menjadi Pegawai Negeri Sipil. Karena buatku PNS sekarang ini hanya sekedar mementingkan dirinya sendiri. Tak ada PNS yang begitu tulus bekerja sebagai abdi negara.

Tak itu saja, Akupun tak menamatkan sekolahku yang telah berada pada kelas 2 sekolah menengah atas. Jika kita bisa mendapatkan ilmu tanpa bersekolah, kenapa kita harus menghabiskan banyak waktu untuk bersekolah selama belasan tahun. Karena prinsip hidup itulah aku hampir mendapat julukan sebagai pengangguran teladan.

Namun kreatifitasku tak membiarkan hal itu berlalu dengan sia-sia. Kini aku menjadi seorang wiraswastawan sukses. Pengusaha yang memiliki banyak bidang usaha. Di pagi hari aku berjualan koran harian, di siang hari aku berjualan minuman dingin, dan kala malam tiba aku mendorong gerobak kacang rebusku dari keramaian yang satu ke keramaian yang lainnya.

Meski menjalani hidup yang tak bisa dijalani oleh semua orang, namun aku tetap menikmati kehidupanku ini. Karena aku tak pernah mau mengubah prinsip hidupku. Bagiku, dunia pasti berputar. Nasib manusia dari waktu ke waktu pasti akan berubah. Walaupun pada kenyataannya setelah tiga tahun aku menjalani kehidupan seperti ini, tak ada sedikitpun tanda-tanda nasibku akan berubah.

Optimistis menjadi modal utamaku dalam menjalani hidup. Namun ada juga orang yang menganggapnya sebagai kepedean. Terserah orang mau bilang apa. Toh, yang menikmati hidupku ya aku sendiri.

Kini aku tengah menjajakkan asonganku di bawah pohon berringin di tepi jalan. Aku tak ingin membakar kulit halusku di bawah terik matahari itu. Ditambah lagi Asap knalpot yang akan menyesakkan dadaku. Tak pernah terbayangkan olehku jika harus hidup dengan kulit yang terbakar dan sakit asma yang membalut tubuhku.

Disaat aku tengah terbaring bersandar dibatang pohon yang kokoh itu, aku melihat sebuah mobil mercy berhenti tepat beberapa meter di depanku. Aku coba tak memperdulikannya, toh setiap harinya aku melihat banyak sekali mobil mewah yang lalu lalang dijalanan.

Namun mataku terperangah kearah mobil itu ketika kaki mulus keluar dari mobil. Sepasang kaki kini telah berdiri disamping mobil berwarna merah itu. Kuangkat pandanganku dari ujung kakinya hingga ke ujung kepala. Kian terpanahlah aku ketika dapat melihat wajah gadis berbaju merah itu.

“Pakaiannya begitu matching dengan mobilnya” hanya itu yang dapat aku gumamkan.

“Perlahan gadis itu mengayunkan kaki kanannya. Ia berjalan lurus dengan rambut terurai tertiup angin bagai iklan shampo yang biasanya kulihat ditelevisi yang dipajang ditoko. Semerbak keharuman terhanyut oleh terpaan angin yang seolah bermaksud memamerkan keharuman wanita itu. Make up yang aku tahu bernilai sangat mahal terpoles diwajahnya. Nilai mahal itu terpancar melalui tebalnya make up yang ia pakai.

“Bang. Abang. Air mineralnya, satu” Suara lembut membangunkanku dari lamunan.

Hatiku berbunga ketika mengetahui bahwa yang menyapaku adalah gadis yang turun dari mobil mercy itu. Aku mencubit tanganku untuk memastikan bahwa aku tidak bermimpi. Kemudian aku melihat disekelilingku untuk memastikan bahwa aku sedang tidak berada disurga bertemu dengan bidadari yang begitu cantik. Namun yang begitu mengejutkan ternyata semua orang juga terperangah melihat gadis cantik itu. Beberapa orang diantaranya tanpa disadari meneteskan air liur yang hampir membanjiri jalanan itu.

“Abang, air mineralnya dijual nggak” tanyanya lagi.

“Och iya, mbak. Tentu saja dijual” jawabku sedikit terkejut sambil tergesa-gesa memberikan sebotol air mineral.

“Harganya berapa, bang” tanyanya lagi.

“Lima ribu saja, bu” jawabku.

“Waduh, Bang. Jangan panggil Ibu dong. Kayaknya udah tua banget. Panggil saja Rindu” ujarnya sambil merogoh tas.

“Kalo gitu kamu juga jangan panggil aku Abang. Panggil saja aku Reno” Ucapku.

“Kebetulan sekali. Namaku Rindu, dan kamu Reno. Kayaknya adea sesuatu dibalik kebetulan ini” Ucapnya sambil memberikan uang seratus ribu.

Aku terkejut mendengarnya. Tiba-tiba dadaku terasa sesak karena dipenuhi oleh bunga-bunga. Jantungku kempas-kempis tak beraturan. Dan Paru-paruku seolah copot tak sanggup menahan ucapan penuh misteri itu.

“Benarkah ada sesuatu dibalik Kebetuan yang ku buat ini. Jika memang benar, maka aku tak akan beritahu bahwa sebenarnya namaku adalah Joko Subandi Bin Sutedjo (maaf jika ada kesamaan). Biarlah nanti aku akan minta kedua orang tuaku untuk motong kambing lagi biar namaku bisa dipermanenkan jadi Reno” begitu pikirku.

“Abang, kok ngelamun lagi, sih” Ucapnya.

“Wah, Mbak. Uang segitu nggak ada kembaliannya. Uang pas sajalah” Ucapku.

“Saya nggak punya uang kecil. Begini saja dech. Kamu simpan nomor telpon saya. Nanti kalau kamu sudah punya kembaliannya, kamu telpon saya” tawarnya.

Aku makin terdiam. Bagaimana mungkin aku menghubunginya, sedangkan Aku tak punya handphone.

“Echm. Gimana yaa. HP ku sedang dibengkel” Jawabku.

Ia tersenyum mendengarnya. Toh, sejak kapan bengkel bisa servis HP.

“Ya sudah. Kamu pegang HP ini saja. Nanti aku akan hubungi kamu” Ia memberikan Blackberrynya padaku.

“Sekarang aku pergi dulu ya, RenoHPHH. Nanti malam aku hubungin kamu ya. Tambahnya.

“I.. I.. Iy.. Iya” Jawabku terbata-bata.

Bagaimana mungkin aku tidak bicara terbata-bata. Seorang wanita cantik yang turun dari mercy tiba-tiba datang menghampiriku dan membeli barang asonganku. Dan dengan manisnya ia memberikan Hpnya padaku.

Eits. Baru sadar kalo aku tak bisa menggunakan Blackberry. Jangankan handphone berkelas itu, handphone yang biasa dijadikan ganjalan pintu saja aku tak bisa menggunakannya. Aku bergegas ke kiosnya Pak Mardi dia pasti bisa mengajariku menggunakan handphone ini.

Dan benar saja, akhirnya aku bisa juga menggunakan handphone itu. Tentunya dengan perjuangan yang tak mudah. Hanya sekedar untuk nelpon dan sms saja, Pak Mardi harus mengajariku selama empat jam. Bahkan Pak Mardi hampir putus asa. Namun setelah kuberikan tiga bungkus rokok daganganku, Pak Mardi kembali mau mengajariku. Dan akupun pulang dengan hati yang bergembira. Seperti gembiranya Dora yang berhasil menyelesaikan misinya.

Malamnya, aku duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon rambutan depan rumahku. Jari-jariku sibuk menekan tombol-tombol handphone yang baru tadi siang kudapatkan. Tiba-tiba aku terkejut ketika handphone itu berdering. Bahkan hampir saja aku lempar handphone itu ke kolam ikan yang berada disampingku. Itu tak kulakukan ketika aku membaca nama seorang gadis yang muncul dilayar handphone itu.

“Ini handphone bikin kaget. Gimana nih cara nerima telpon” Ujarku.

Aku kebingungan memperhatikan handphone itu. Ku tekan beberapa tombol yang ada.

“Tombol berwarna hijau ini sangat mencurigakan” Ujarku sambil menekan tombol hijau itu.

Sesaat kemudian kudengarkan suara seorang wanita menyapaku dari handphone itu.

“Hello….” Ucapnya.

“Hello….” Ucapku mengikuti kata-katanya.

“Lagi ngapain?” tanyanya.

“Sedang nunggu telpon dari kamu” jawab ku merayu dengan bahasa terbata-bata.

“Besok aku mau ajak kamu jalan-jalan, mau nggak?” Tanyannya.

Sejenak aku berfikir benarkah wanita ini mengajakku jalan-jalan esok hari.

“sebenarnya sih aku ada kegiatan, tapi untuk kamu aku rela batalkan janjiku itu” jawabku. Padahal seisi duniapun tahu bahwa kegiatanku esok hari tak lain hanyalah berjualan asongan seperti biasanya. Dan janji yang aku maksudkan adalah janji bayar hutang diwarung makannya Mak Udah.

“Ya sudah. Besok aku jemput ditempat kita bertemu kemarin jam 9 pagi ya” ujarnya.

“Baiklah. Aku akan ada disana pukul 4 pagi” candaku.

“Ya sudah, sekarang kamu istirahat ya. Selamat malam, sayang. Emmmuuuaaahhh” Dia memberikan sekecup ciuman yang membuat jantungku cenat-cenut.

Suara ditelpon menghilang seiring nada “bip..bip..bip”. Namun aku tetap tertegun tak kuasa menahan gravitasi bumi yang kian berat menarik kakiku. Aku terbaring diatas bangku panjang dibawah pohon itu. Kecupan dari Rindu terus terngiang ditelingaku. Hingga akhirnya ku terlelap diantara nyamuk-nyamuk nakal yang tanpa izin menyedot tiap mililiter darahku.

Kicau burung meriahkan pagi. Suara kokok ayam membangunkanku. Semerbak wangi bunga-bunga menyambutku dipagi itu. Seolah semerbaknya hatiku yang dipenuhi bunga-bunga indah.

Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Aku bergegas menuju kamar mandi. Namun, aku mendapati Yanti yang tak lain adalah kakak iparku sedang mencuci. Akhirnya aku pergi menuju kali. Dengan tanpa alas kaki, akupun mandi dan tak lupa menggosok gigi. Suara siul bibirku bersambut dengan seraknya suaraku bernyanyi. Dan aku selesai mandi tepat tiga puluh menit sebelum waktu kami berjanji.

Aku bergegas menuju rumah dan segera mengenakan baju. Wangi parfum serentak membasahi tubuhku. Tak lupa aku mengenakan celana baru. Semuanya kulakukan hanya untuk bertemu Rindu.

Jam Sembilan berdentang ditelinga. Aku segera menuju ketempat biasa. Dan Rindu telah menunggu disana dengan mobil Mercy warna merahnya. Senyumnya dari jauh telah menyapa. Tak pernah ku rasakan degup jantung yang begitu membara. Bagaimana mungkin seorang loper Koran bisa berkenalan dengan seorang putri orang kaya.

“Wah. Maaf, sudah lama menunggu ya?” Kataku.

“Tidak kok. Masih sepuluh menit lagi dari waktu kita janjian. Aku sengaja datang lebih awal karena aku tak mau membuatmu menunggu” Ujar Rindu.

“Terima kasih untuk hal itu. Kamu terlihat cantik hari ini” Rayuku.

“Kau terlalu memuji” Ujar Rindu lagi.

“Jadi kau mau mengajakku kemana hari ini?” Tanyaku.

“Kamu ikut aku saja. Nanti kamu jua akan tahu” Rindu membuatku penasaran.

Rindu segera mengajakku masuk kedalam mobil mewahnya. Menyisakan orang-orang yang sedari tadi menatap kearah kami. Pesona kecantikan Rindu telah menyihir orang-orang sehingga berdiri mematung bagaikan anak idiot. Dan baru kusadari setalah masuk kedalam mobil, ternyata ada kecelakaan beruntun di dekat kami karena pengendaranya tak berkonsentrasi berkendara menatap kearah Rindu.

Kecantikan itu harusnya hanyalah dimiliki oleh bidadari-bidadari surga. Entah bagaimana kecantikan itu bisa diwarisi oleh seorang anak manusia. Atau justru Rindu adalah anak dari seorang bidadari. Atau justru Rindu adalah bidadari itu sendiri.

Deru mobil meninggalkan keramaian perempatan itu. Rindu mengajakku kesuatu tempat otomotif. Ia bermaksud membelikanku sebuah mobil.

“Bagaimana, adakah mobil yang kamu sukai di sini?” Ujar Rindu.

“Maksudmu?” Tanyaku bingung.

“Aku kasihan melihatmu berjualan ditempat panas. Jadi aku ingin membelikanmu mobil”Ujar Rindu.

Aku hanya menggeleng sambil terperangah. Bagaimana mungkin seorang loper Koran berjualan menggunakan mobil Avanza, Xenia atau Innova. Lagipula aku sedari tadi tak mengaku bahwa sebenarnya aku tak bisa mengendarai mobil. Karena itu sedari tadi aku tak menawarkan diri untuk mengendarai mobilnya.

“Ya sudah. Kamu temani aku ketempat wisata saja ya. Sudah lama aku tak bermain disana” Ujar Rindu.

Akupun hanya menganggukkan kehendaknya. Disana aku melihat Rindu yang begitu ceria menikmati berbagai wahana permainan. Berbeda denganku yang sedari kecil hanya bermain kejar-kejaran disungai atau bermain petak umpet dibalai desa. Terakhir aku bermain permainan semacam itu di pasar malam dekat rumahku. Dan aku langsung demam tiga hari dan muntah-muntah. Karena itu aku menolak menemani Rindu menikmati wahana permainan.

Hari beranjak sore aku bermaksud mengajak Rindu untuk pulang. Meski kulihat ia masih sangat menikmati hari itu, namun aku tak menginginkan ia dimarahi kedua orang tuanya jika pulang malam. Maklum saja, aku selalu dimarahi jika pulang malam, apalagi tak membawa uang setoran.

“Rindu, kita pulang ya. Hari sudah cukup sore” Ucapku.

“Padahal aku sedang menikmati hari ini. Tetapi lain kali kamu harus menemaniku lagi ya.” Pintanya.

“Pasti. Tak mungkin aku menolak permintaan gadis secantik kamu” Aku kembali merayunya.

“Kamu serius tidak mau ku belikan sesuatu” Katanya.

“Tidak perlu. Aku tak mau merepotkanmu. Akukan seorang pria, mana mungkin seorang pria mau menerima pemberian seorang gadis. Suatu saat aku pasti bisa mendapatkannya dengan perjuanganku sendiri” Ucapku.

Ucapanku seolah menunjukkan karakter seorang pria sejati. Namun dalam hatiku merasa sangat sedih. Karena sedari tadi Rindu menawarkan hal-hal yang tak bisa aku gunakan. Bagaimana mungkin ia menawarkan mobil kepada loper Koran. Selain itu ia juga menawarkan aku laptop, jas, handphone blackberry, hingga mengajakku liburan keluar negeri. Jika aku pergi keluar negeri, bagaimana nasib daganganku. Aku pernah satu kali tidak bekerja, dan bosku langsung ingin memecatku. Andai saja Ia menawarkanku rumah atau menawarkanku menjadi suaminya. Tanpa pikir panjang, tentu aku akan menerimanya.

Kami melesat menuju gubukku. Bukan kata kiasan, karena rumahku memang tak ubahnya sebagai gubuk berdinding papan dan kardus. Sepanjang perjalanan ku tatap wajah Rindu yang begitu memancarkan kecantikannya. Kecantikan itu tak luntur sejak kami bertemu di pagi hari tadi. Bahkan selama kami bersama, tak sekalipun aku lihat ia bersolek untuk memperbaiki make upnya. Entah make up apa yang ia gunakan hingga tak sedikitpun debu yang menempel diwajahnya.

Senyum dibibirnyapun tak pernah hilang. Membuatku senantiasa merasa bahagia bila didekatnya. Bagaimana tidak, aku yang selama ini berada dipinggir jalan, sekarang berada didalam mobil mewah bersama gadis tercantik didunia.

Rambutnya terurai indah. Panjang rambutnya seolah menghubungkan pulau jawa dan sumatera. Hitamnya mengambarkan sehatnya rambut yang ia miliki. Bagaikan iklan shampoo yang biasa kulihat di televisi. Bahkan hitamnya mengalahkan hitamnya knalpot yang senantiasa menemaniku dikala berjualan.

Tak lama kemudian mobil berhenti. Aku menyadari bahwa itu bukanlah lorong kearah rumahku. Rindu bermaksud mengajakku makan malam. Ya, setelah makan siang seadanya di tempat wisata tadi, perutku sangat kelaparan. Cacing-cacing diperutku seolah menabuh gendering perang yang memancing cacing-cacing lainnya bangun dari tidur panjang.

“Kita makan maam dulu ya. Aku mau memperkenalkanmu paa kedua orang tuaku” Kata Rindu.

“Apa??? Ta..ta..tapi dengan penampilanku seperti ini…” aku kaget bukan kepalang mendengarnya.

“Tenang saja, orang tuaku datang tiga puluh menit lagi. Dan aku telah menyiapkan busana untuk kita berdua. Jadi kita bisa bersiap-siap terlebih dahulu”. Ujarnya sambil tersenyum menenangkanku.

Ya. Senyumnya benar-benar menenangkan dan menyenangkanku. Tak pernah aku dijamu sedemikian rupa, apalagi oleh gadis secantik dia. Apalagi dia ingin memperkenalkanku kepada orang tuanya. Meski aku tak tau apa maksudnya, namun bisa seperti ini saja aku sudah sangat senang.

Aku selesai membersihkan diri dan mengganti pakaianku. Aku mengenakan jas hitam dengan dasi yang begitu mengikat dileher membuatku merasa tak nyaman. Namun hal itu membuat bahuku bertambah tinggi kurang lebih sepuluh senti. Aku merasa menjadi seorang pejabat sebuah perusahaan ternama seperti yang aku baca dikoran bekas yang menjadi alas dudukku ketika beristirahat berjualan Koran.

Dikamar yang berbeda, aku melihat seorang gadis keluar dari kamar itu. Gadis dengan dress putih, rambut yang bergelombang dan sepatu kaca yang menghias kakinya. Ia bagaikan cinderela yang terbangun dari tidur panjangnya setelah dicium oleh seorang pangeran. Entah yang dicium itu cinderela atau putri salju, aku sudah lupa. Yang pasti kecantikannya kian terpancar dengan bertaburkan kerlip lampu restoran yang syahdu.

Kami berdampingan menuju meja makan. Disana telah menunggu beberapa orang yang tak lain adalah keluarga Rindu. Dari kejauhan tampak senyum menghias bibir mereka yang menatap kearah kami.

Begitu kami mendekat, mereka langsung berdiri untuk memberikan penghormatan kepada kami. Di ujung meja, dua buah kursi telah menanti kami. Pelayan yang berada dibelakang kursi itu menariknya untuk mempersilahkan kami duduk. Kami duduk bersanding bagaikan Raja dan Permaisuri.

Rindu memperkenalkan aku kepada orang-orang yang ada disana. Sambutan merekapun cukup ramah. Kedua orang tuanya menunjukkan wajah yang begitu menyukaiku. Entah apa yang ada dipikiran mereka. Pertanyaan besar menggeayut dipikiranku. Apa reaksi mereka ketika mengetahui aku hanyalah seorang loper Koran.

“Ayah. Ia adalah seorang loper Koran. Aku berkenalan dengannya kemarin” Ujar Rindu.

Hal itu membuatku tersentak. Degup jantungku bagaikan perang dunia ketiga.

“Tentu kamu seorang pekerja keras. Yang aku tahu persaingan dalam penjualan Koran sangat ketat. Ada puluhan bahkan ratusan penjual Koran dijalanan. Butuh strategi pemasaran yang sangat tinggi untuk memenangkan persaingan itu. Saya yakin kamu pasti bisa mempraktekkan strategi pemasaranmu pada perusahaan kita kelak” Ujar ayahnya padaku.

Hal itu membuatku bertambah bingung. Apa benar ayahnya akan menyerahkan jabatan itu kepadaku. Aku sedikitpun tak mengerti tentang pemasaran. Yang aku tahu, jika lampu merah menyala aku menghampiri mobil-mobil itu dan menawarkan koranku. Jika tak ada yang membeli, mungkin aku hanya bisa menggerutu saja. Atau aku ambil batu dan kulempar kaca mobil itu. Setidaknya itu yang akan aku lakukan pada perusahaan lain yang mengalahkan kami ditender.

“Baiklah. Kita mulai saja makan malamnya” Ucap ayah Rindu mempersilahkan.

Kebetulan sekali perutku sudah sangat keroncongan. Ditambah lagi aroma makanan yang sepertinya begitu lezat seolah menarik lidahku untuk segera mencicipinya. Entah telah berapa liter air ludah yang ku telan untuk menahan dahaga ini. Hingga akhirnya Rindu mengambilkan makanan untukku. Kamipun makan dengan teliti, seksama dan bersahaja diiringi gesekan biola yang asing ditelingaku.

Acara makan malam selesai. Sesaat kemudian salah seorang diantara kami berdiri. Tampak bahwa ia akan memandu acara pada malam itu.

“Baiklah, setelah makan malam usai. Sekaranglah saat yang kita nanti-nantikan. Yaitu acara pertunangan. Kepada keduanya kami persilahkan maju kedepan” Ucap orang itu.

Aku hanya duduk terdiam menanti siapakah orang yang akan maju kedepan untuk bertukaran cincin diacara pertunagan ini. Tentu sangatlah menyenangkan andai saja aku bisa mengadakan acara pertunagan seperti itu.

Lamunanku terpecah ketika Rindu menarik tanganku. Ia mengajakku tampil dihadapan orang-orang itu. Aku bingung apa tujuan Rindu menarik tanganku. Setelah aku berdiri, barulah Rindu membisikkan sesuatu padaku.

“Yang akan bertunagan adalah aku dank au” Bisiknya.

Aku hanya bengong. Jiwaku sesaat melesat jau menggapai bulan lalu kembali jatuh kebumi dan melesat lagi ke bintang dan sesaat kembali lagi kebumi. Bingung, bahagia dan berjuta rasa lainnya bercampur dihatiku. Bagaimana mungkin seorang loper Koran bertunangan dengan Bidadari secantik Rindu. Entah apa yang akan diberitakan di Koran esok pagi.

Aku memegang tangan Rindu dan memasukkan cincin emas murni bertahtahkan berlian asli ketangannya. Tepuk tangan dan iringan musik meng hempas kesunyian restoran yang memang disewakan untuk acara malam itu. Setelah itu gantian Rindu yang memasukkan cincin ditanganku. Kembali tepuk tangan dan iringan music menghempas jantungku. Dan suara terompet musik itu begitu dominan memekakkan telingaku.

Pikiranku masih melayang jauh menikmati masa-masa itu. Hingga sekali lagi buny I terompet itu terdengar keras ditelingaku. Allu aku melihat Rindu yang sedari tadi berdiri dihadapanku. Namun aku tak mendapatinya. Aku menoleh kesamping melihat kearah meja makan yang duduk keluarga besar Rindu, dan kupikir Rindu juga telah duduk disana. Namun aku tak mendapatinya. Yang aku lihat justru beretan mobil yang sedari tadi membunyikan klakson dengan kencangnya.

Barulah aku sadari bahwa aku berdiri tepat ditengah-tengah jalan. Dan terompet dari band itu tak lain adalah klakson mobil yang terjebak macet cukup panjang.

“Hei. Mau sampai kapan kau berdiri disana? Sudah tiga kali lampu hijau dan kau sedikitpun belum beranjak satu incipun dari sana. Apa mau menunggu kemacetan ini mengekor sampai ke Bandung?” Ujar salah seorang berteriak dengan lantangnya.

Sorot mata mereka begitu tajam menatapku. Klakson dari mobil-mobil mereka tak henti berbunyi. Barulah kusadari ternyata semua itu hanyalah mimpiku disiang bolong. Aku melangkahkan kakiku kepinggir jalan. Memberikan ruang bagi mobil-mobil itu untuk melaju. Umpatan, cacian dan makian menghujaniku yang berdiri dengan penuh kebingungan, kekecewaan dan penuh rasa bersalah. Hingga seorang temanku sesame loper Koran menghampiriku.

“Menghayal bertemu gadis cantik dan menikah dengannya lagi?” ujarnya.

“Ini yang ketiga kalinya kau menghayalkan hal itu dalam hari ini. Hiduplah bersama kenyataan. Loper Koran seperti kita paling hebat menikah dengan pembantu” Sambungnya.

Yaa. Sepertinya mimpi tetap akan berlalu menjadi mimpi. Namun, aku tetap tak menyerah. Bagiku hidup berawal dari mimpi. Meski karena mimpi itulah aku diusir oleh ibuku karena malas bekerja. Meskipun aku tak dapat menggapai mimpi-mimpi itu, setidaknya aku telah merasakan kebahagiaannya didalam mimpiku.

AKU, KAU DAN AKU

Termenung aku di kamar kecilku. Yang berhiaskan poster-poster pemain NBA kenamaan semacam Peter Gasol, Dwayn Wade, Kobe Bryan, dan lainnya. Pikiranku melayang di antara helai-helai jaring laba-laba yang terselip di sudut kamar.

“Bagaimana mungkin cintaku yang begitu besar kau meletakkan pada celah sempit antara kau dan dia?” Tanyaku.
“Lalu bagaimana dengan kau yang menghilang disaat aku benar-benar membutuhkanmu? Kemana perginya rasa cinta yang awalnya begitu aku banggakan? Kemana hilangnya rasa sayang yang dahulu begitu aku dambakan?” Tanyanya balik.
“Aku sayang kamu sejak kamu disitu. Tapi sekarang kamu tuh gak tau kayak apa aku sayang sama kamu. Kamu tuk gak pernah....” Tegasku dengan nada yang menginggi.
“Itu dia masalahnya, Gas. Aku gak pernah benar-benar tahu” Potongnya dengan nada yang tak kalah keras.
“Aku nunggu, Gas. Nunggu. Tapi akhirnya aku sadar satu hal. Kamu gak pernah benar-benar cinta sama aku” Sambungnya dengan nada yang kian melirih.
“Baik. Mungkin tak ada penyelam yang bisa menyelami dalamnya cintaku padamu. Dan tak ada pendaki yang mampu mengukur tingginya kerinduanku padamu. Sekarang, kau pilih aku atau dia!” aku coba beri penawaran.
“Sekarang, aku udah mutusin. Aku gak akan milih siapa-siapa. Kayaknya lebih baik aku sendiri sekarang. Dan aku juga gak mau sakit lagi” Jawabnya sambil meneteskan derai air mata.

Kata-kata itu terus membayangiku. Ya, itu adalah sepenggal kejadian di siang tadi. Ketika aku pulang ke tanah air dan bermaksud menemui kekasih hatiku. Namun yang kudapati ia tengah bersama seorang pria yang pada akhirnya aku tahu bahwa pria itu hanyalah temannya saja.

Aku baru mengetahui hal itu ketika Rindi datang dengan marah-marah kerumahku.

“Bagas, apa-apaan kamu. Setelah sekian lama kamu pergi ninggalin April, dan kamu pulang hanya membawa amarah bodohmu itu saja” Bentaknya yang membuatku kian tak mengerti.
“Kamu bicara apa?” Aku kebingungan.
“Pria yang kamu lihat bersama April itu hanyalah temannya saja. Dan kau tahu, pria bernama Ari itu gay. Jadi tak mungkin dia berpacaran dengan April” ucapnya dengan nada yang tak menurun.

Panjang lebar Rindi menjelaskan kehidupan April setelah kepergianku. Ia menceritakan bagaimana terpuruknya April setelah kepergianku itu. Ditambah lagi aku pergi tanpa mengabarinya terlebih dahulu. Bahkan aku yang tidak bisa dihubungi sama sekali karna kehidupan asramaku yang sangat ketat kian membuatnya merasa dikhianati. Penjelasan Rindi pun membuatku merasa bersalah.

Tiga tahun yang lalu aku mendapatkan beasiswa untuk belajar diluar negeri. Kabar gembira itu aku terima tiga jam sebelum aku berangkat. Karena hal itu aku tak sempat untuk menemui April. Dan setelah sampai di asrama, semua perlengkapan pribadi langsung disita oleh pengurus asrama, termasuk juga handphoneku.

Kini aku hanya bisa terdiam. Memandangi semut-semut yang berbaris saling bertabrakan yang tak pernah hidup sendiri. Juga memandangi cicak yang bersiaga untuk menangkap seekor nyamuk yang hinggap di dinding. Tepat disamping fotoku dan April dengan pecahan kaca dan bingkai yang kembali ku susun bagai permainan puzzle.

Ku pandangi foto yang sebelumnya berserakan di lantai itu. Sejenak ku pandang foto itu, beribu kenangan indah bersama April terlintas dibenakku. Kian ku pandang wajah itu, kian terhirislah jantung hatiku. Seolah April yang ku simpan dalam hatiku tengah mengamuk merobek-robek setiap sudut organ terpentingku.

“Tak mungkin aku hanya berdiam diri di sini sementara ada seorang gadis yang tengah merintih oleh perbuatanku” Begitu gumamku.

Aku beranjak dari tempat tidur berselimut lambang LA Lakers-ku. Jaket putih bercorak kotak-kotak langsung kusandang. Sesaat kemudian aku telah berada di atas motorku yang sudah tiga tahun tak aku tunggangi. Raungan motor itu memecah kesunyian senja. Dan akupun bergegas menuju rumah April dan meninggalkan helm kesayanganku tergantung di sudut garasi.

“Malam-malam egini pasti tak ada polisi yang bertugas” Begitu pikirku.

Diujung jalan, terdapat taman yang biasanya menjadi tempat Aku dan April menghabiskan senja di sore hari. Sambil terus mengendara, aku pandangi setiap sisi taman itu. Yang muncul dibenakku adalah saat dimana Aku dan April benar-benar menghitung keliling taman itu dengan langkah kaki kami. Uniknya keliling taman itu adalah 1404 kaki, serasi dengan tanggal aku bertemu April di hari ulang tahunnya, 14 April 2007.

Sesaat kemudian kupalingkan wajahku dari taman itu. Menjadi sangat mengejutkan ketika kulihat didepanku ada motor lain dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dengan seluruh kemampuanku, aku mencoba untuk menghindarinya.

Nyaris saja kendaraan itu bertabrakan denganku. Namun aku tak menghentikan laju motorku. Aku memperhatikan dari kaca spionku, dan kulihat keramaian tepat di sekitar tempat aku menghindari motor itu. Aku berpikir sepertinya kendaraan itu telah menabrak orang lain.

Beberapa saat berlalu, kini aku telah sampai didepan gerbang sebuah rumah yang cukup megah. Aku mengetuk pintu pagar berwarna hijau itu. Namun sepertinya tak ada yang mendengar. Aku perhatikan Satpam penjaga rumah itu tengah asyik bermain catur dengan tukang kebun. Maka aku berinisiatif untuk langsung masuk saja.

Aku tersenyum kepada kedua penjaga rumah itu. Sejenak ia memperhatikanku yang tengah menutup pintu gerbang itu, sesaat kemudian ia kembali asyik bermain catur. Aku berpikir setidaknya itu adalah isyarat bahwa ia mengizinkanku masuk.

Di sebuah kursi halaman rumah itu aku melihat seorang wanita yang tengah duduk terpaku. Wanita dengan baju berwarna biru langit itu terlihat begitu indah diantara bunga-bunga yang kian layu. Dari kejauhan aku tatap matanya yang lembab. Mata itu tengah menatap bintang kecil dilangit yang secara perlahan mulai menunjukkan dirinya.

“April” aku coba menyapanya.
Namun tak ada sahutan. Seolah jiwanya telah dibawa oleh bintang-bintang itu.

“April” aku kembali mencoba menyapanya.
Dan ia belum menjawab sapaan lembutku itu. Semula aku berpikir bahwa ia sudah tak ingin lagi bertemu denganku, terlebih untuk berbicara denganku.

“Tuhan, jika hari ini harus menjadi hari terakhirku bertemu dengannya, aku ikhlaskan hal itu. Namun lunakkanlah hatinya untuk berbicara denganku” do’aku dalam hati.

“April” Sapaku lagi.
Perlahan ia menoleh sambil berusaha menghapus air mata yang telah membanjiri segenap kelopak matanya. Seolah ia mendengar do’a yang baru saja aku ucapkan.
“Ternyata kau. Untuk apa lagi kau menemuiku?” Tanyanya dengan nada yang goyah.
Ia berdiri dan berusaha pergi meninggalkan ku yang berdiri dengan detak jantung yang kurasakan seperti ketika pertama kali aku bertemu dengannya. Aku meraih tangannya dengan harapan ia tak akan pergi meninggalkanku.

“Tahukah kau, di setiap jengkal jarak aku meninggalkanmu telah ku sematkan sebuah kata cinta. Tahukah kau, disetiap detik aku jauh darimu disetiap aliran darahku selalu merindukanmu. Tahukah kau...” Ungkapku.
“Lalu seberapa kau tahu setiap hembus nafasku yang terselip pada tali temali selalu menanyakanmu? Seberapa kau tahu setiap tetes darah yang menetes dari lenganku selalu menantimu? Seberapa kau tahu cepatnya otakku berpikir yang berlomba dengan aliran peluru membelah udara selalu mengharap secepat itulah kau akan menemuiku?” Ucapnya menyela kata-kataku.

Aku terdiam, tak sanggup menjawab ungkapan isi hatinya yang tersirat pada ucapannya yang kian bergetar dengan suara yang keras itu. Teringat ku pada ucapan Rindi bahwa April beberapa kali mencoba mengakhiri hidupnya. Dan kini aku mendengar sendiri dari mulut April tentang hal itu.

Sejenak aku menatap ke arah kedua penjaga rumah yang tadinya bermain catur itu. Merekapun menatap kearah kami berdua, namun kemudian kembali bermain catur karena takut dimarahi oleh tuan rumahnya yang berada dihadapanku. Dari gerakan bibirnya seolah mereka menanyakan apa yang terjadi pada nyonya kecilnya hingga menangis seperti itu.

Aku mencoba mengangkat wajahku memberanikan diri menatap mata April yang kembali basah oleh air mata. Aku menyadari bahwa ribuan kata yang ku rangkai tak akan mampu membuka ruang maaf dihati Arpil. Aku menarik tangan april yang sedari tadi aku genggam, dan memeluk tubuhnya. Aku berharap bahwa pelukan ini akan menyampaikan setiap kerinduan, cinta dan kasih sayang yang terselip dihatiku kepada hati April yang ku khawatirkan telah membeku.

Dan, benar saja. April terhanyut dan terbuai dalam pelukan itu. Ia begitu memahami setiap pelukanku yang mewakili setiap kata yang ingin ku ungkapkan. Dan ia memaafkanku.

“Apakah negeri seberang telah membuat tubuh dan hatimu menjadi dingin dan membeku?” Tanyanya dengan tubuh yang gemetar seolah merasakan rasa dingin yang teramat sangat dalam pelukanku.
Belum sempat aku menjawabnya, ia melepaskan pelukan panjang itu seiring adanya suara dari dalam rumah yang memanggilnya.
“April, Ada telepon dari Rindi” Suara itu memecah keheningan.

April segera mengusap air matanya sambil bergegas masuk kedalam rumah. Sambil memberikan senyuman, ia menarik tanganku mengajakku masuk.
“Aku tunggu disini saja” Ucapku sesampainya didepan pintu.

“Halo, April” Suara ditelpon itu terdengar sangat tergesa-gesa.
“Iya. Ada apa, Rin?” Tanya April dengan suara yang tak lagi bergetar.
“Bagas. Dia kecelakaan. Dia tabrakan motor di dekat taman di ujung jalan rumahnya” Ucap Rindi
“Ach. Kamu jangan bercanda. Bagas sekarang sedang ada dirumahku. Aku baru saja berbincang dengannya” Ucap April.
Aku yang mendengar kabar itu sangat terkejut. Aku teringat pada kecelakaan saat aku tengah menuju rumah April. Kemudian aku segera menuju lokasi kecelakaan itu tanpa berpamitan pada April. Mungkin pergi tanpa berpamitan telah menjadi kebiasaan terburukku.

Aku berjalan melewati kedua penjaga rumah itu. Dengan isyarat menundukkan kepala, aku berpamitan kepada mereka berdua dengan harapan jika April mencariku, mereka bisa memberitahu kepada April bahwa aku telah pergi. Namun keduanya kembali asyik bermain catur seolah tak memperdulikan kepergianku.

Sementara itu April masih bingung dengan penjelasan Rindi. Ia benar-benar tak mengerti. Baru saja ia bertemu dan berpelukan mesra dengan Bagas. Namun disaat yang sama ia mengetahui bahwa orang yang ia peluk telah mengalami kecelakaan.

April menutup telponnya dan pergi keluar untuk menemuiku. Namun, ia tak mendapatiku ditempat aku berdiri sebelumnya. Ia menanyakan kepada penjaga rumah yang harusnya dari tadi melihat Bagas. Namun penjaga itu tidak mengetahui pria yang dimaksud oleh April.

Maka April masuk kerumahnya dan kembali menghubungi Rindi.
“Rin, apa benar yang kau katakan tadi? Lalu dimana Bagas sekarang?” Tanya April panik.
“Aku sekarang ada dirumah Bagas” Terang Rindi.
“Aku segera kesana” Ucap April memotong pembicaraan.

April segera mengambil kunci mobilnya dan bergegas menuju rumahku. Pikirannya benar-benar berkecamuk. Ia benar-benar bingung, bagaimana mungkin Bagas mengalami kecelakaan sedangkan Bagas tengah bersamanya. Lalu perginya Bagas secara tiba-tiba dari rumahnya membuatnya bertambah panik.

Sementara itu, aku telah sampai di tempat di mana kecelakaan itu terjadi. Aku melihat darah hampir membasahi jalanan sempit itu. Sisa-sisa kecelakaan masih berserakan ditempat itu. Aku melihat motorku telah terbaring di samping jalan itu.

Hal itupun membuatku bingung. Jika itu benar motorku, lalu bagaimana aku bisa sampai kerumah April. Aku mendekat kearah motor yang telah ringsek itu. Dan benar juga, itu benar-benar motorku. Lalu aku melihat sekeliling berusaha mencari kendaraan yang kugunakan kerumah April. Namun aku tak menemuinya. Maka akupun bergegas berlari menuju rumahku.

Dari kejauhan aku melihat keramaian dirumah mungilku itu. Aku kian mendekat dengan wajah ingin tahu sembari menegur sapa orang-orang yang aku temui. Namun mereka tak menjawabku, seolah mereka tak melihatku sama sekali didalam kedukaannya.

Aku mencoba masuk kedalam rumah diantara keramaian orang dengan isak tangisnya. Di tengah keramaian itu aku melihat sesosok tubuh yang terbaring kaku. Beberapa orang mengafaninya, sementara yang lainnya membacakan ayat-ayat Al-qur’an dengan linangan air mata dipipinya.

Aku berusaha mengenali sosok itu. Dan aku sangat terkejut ketika mendapati wajah itu adalah wajahku. Aku berusaha tak mempercayai bahwa aku telah tiada. Toh, aku berada di sini menyaksikan keramaian ini.

Belum usai keterkejutanku, aku menatap mobil berwarna jingga yang berhenti dihalaman rumahku. Seorang wanita yang tak lain adalah April dengan tergesa-gesa turun dari mobil itu dan segera masuk kedalam rumah.

April segera menghampiri aku yang terbaring di sisi ibuku dan beberapa teman terbaikku. Ia segera membuka kain yang menutupi jasad itu. Sesaat ia terdiam dan tak mempercayai apa yang ia lihat. Kemudian ia tertunduk lemah yang menunjukkan ketidak kuasaannya menerima hal ini. Ia pun mendapatiku yang telah pergi selamanya.

Rindi dan ibuku membawanya kedalam kamar untuk mengistirahatkannya. Aku berusaha memanggil Rindi dan ibuku, namun keduanya tak mendengarkan.

“April, kau harus terima kenyataan ini” ucap Rindi setelah April siuman.
“Bagaimana mungkin ini terjadi? Baru satu jam yang lalu aku bersama Bagas” Ucap April.
“April, tapi Bagas mengalami kecelakaan dua jam yang lalu. Bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal bisa menemuimu” Ucap Rindi berusaha menegarkan.

Aku hanya terdiam diluar kamar. Aku menatap tanganku yang kian terlihat transparan. Begitupun dengan sekujur tubuhku. Kini aku menyadari bahwa aku memang benar-benar telah tiada.

Korban keelakaan itu benar-benar aku. Kecepatan motor itu sangat tinggi, ditambah lagi dengan aku yang tak fokus pada jalanan. Sehingga mengakibatkan aku tak punya waktu yang cukup untuk mengelak dari keelakaan itu.

Ban motorku beradu dengan motor dihadapanku. Aku terpental beberapa meter dan tewas ditempat. Pun begitu dengan pengendara motor lainnya. Namun ia sedikit lebih beruntung. Ia memakai helm sehingga menghindarkannya dari benturan.

“April” Ibuku yang tiba-tiba masuk menyapa April.
”Ibu menemukan ini dimeja kamar Bagas. Sepertinya ia menulis ini untukmu” Sambung Ibuku.

Benar, dalam kesendirianku sebelum pergi ke rumah April, aku merangkai kata demi kata dalam ayunan pena yang menari diatas kertas berwarna putih itu.

Rindi pergi meninggalkan Arpil sendiri di kamar itu. Menunjukkan bahwa ia memberikan kesempatan bagi April untuk sepuasnya membaca surat terakhir dari Bagas itu.

April,
Aku tak tahu alasan Tuhan mempertemukan kita.
Aku pun tak tahu alasan aku mencintaimu.
Terlebih alasan bagiku untuk hidup tanpa dirimu.
Dan Akupun tak tahu alasan Tuhan memisahkan kita
Karna itu,
Jika seandainya Tuhan harus mengakhiri kebersamaan ini.
Aku ikhlaskan hal itu.
Karna aku tak tahu alasan yang tepat untuk menolaknya.
Hanya do’aku.
Di ujung nafasku, izinkan aku memelukmu
Dan menyebut namamu sebelum nama-Nya.

Akupun masuk kedalam kamar, menatap April yang berlinang air mata. Ia berdiri seolah menyadari kehadiranku. Aku bergegas menuju kearahnya dan segera memeluknya. Diapun terdiam seperti merasakan pelukan itu.

Tubuhku kian terkikis oleh waktu, sepertinya Tuhan benar-benar memberikan batasan waktu bagiku untuk bertemu dengan April. Hingga dikesempatan terakhirku memeluknya, aku membisikkan sesuatu di telinga April.

“April, Aku mencintaimu. Biarkan Tuhan mempertemukan kita pada kehidupan yang lain” Ucapku lirih.

Seiring berakhirnya kata-kata itu, Akupun benar-benar menghilang. Yang tersisa hanyalah sosok tubuh yang terbaring diruang tamu yang tak lama lagi akan termakan oleh tanah.

GOMBAL ABIS

Ketahuilah,
Cinta tak akan pernah sekalipun mengetahui tingkat kedalamannya,
Bila ia belum diterkam oleh perpisahan.

Aku datang atas nama cinta
Dan kini kau datang membawa putih cintamu yang begitu manis
Melekat dalam relung jiwaku.

Jika kegelapan menyembunyikan pepohonan dan bunga-bunga dari penglihatan kita.
Ia tidak akan menyembunyikan cinta dalam hati kita.

Andaikan saja aku berani berkata cinta.
Kini diriku merasa lelah memendam rasa.
Ingin kuungkapkan semua, meski tanpa akhir terindah.

Meski cinta tak terbalaskan,
tapi tetap akan kutunggu hingga engkau hanya memikirkanku seorang.

Cinta adalah misteri yang sulit dimengerti.
Cinta merupakan anugerah bagi insan manusia.
Cinta adalah kebahagiaan yang terpancar dalam diri seseorang, meski terkadang cinta juga meninggalkan rasa sakit.
Adakah cinta abadi?
Akankah cinta selalu bersemi?

Cinta berpuisi seribu makna.
Bertahun-tahun perjalanan cinta yang tak pernah terpisahkan oleh waktu dan jarak.

Berharap datangnya cinta bagai bunga di musim lalu,
dan mengharap turunnya hujan.
Kupercaya akan janji,
seperti kupercaya terbitnya matahari esok pagi.

Anganku tak berhenti bersajak.
Walau kutahu, kau tak pernah menganggap diriku ada,
Meski rasa letih mendera,
Aku tak akan pernah melepaskannya lagi.
Kau hanya mimpi yang tak akan menjadi nyata hingga segala rasa harus padam dan berakhir.
Kan selalu kurasakan hadirmu antara ada dan tiada.

Dingin angin malam membawa khayalan kian pasti.
Kugantung impian dan asa,
Dan aku berjanji tidak akan mengecewakan dirinya.

Mencintaimu setulus hati,
Mengarungi lautan untuk mendapatkan cinta suci.
Tak akan pernah menduakanmu walaupun terpisah jarak dan perbedaan.

Tak semua kata dapat terucap,
Lain di mulut lain di hati.
Suatu hari nanti, kau akan tahu,
Rasa cinta yang tersimpan.

Nikmatilah cinta dengan kasih putih,
Maka akan lahir cinta sejati.

Mengagumimu apa adanya dan menjadi inspirasi dalam hidupku.
Membangkitkan rasa cintaku menjadi tak terbatas.
Kini, kuserahkan diriku apa adanya.

Tak akan pernah tahu,
Kemana mata hati melangkah dan berpijak.
Sosokmu hanya banyang semu di hati.
Abadilah asa bersama mimpiku.

Sesaat mengenal telah menambah arti dalam hidupku.
Kudapatkan anugerah terindah di bulan penuh berkah.
Tanpa kata janji, hanya ungkapan cinta dan saling pecaya.
Berdua kita jelang masa depan bersama dalam satu cinta,
Abadi selamanya.

Rindu akan belaianmu, kasih sayang, dan ketegaranmu.
Walau semua itu t’lah berlalu,
Tapi takkan pernah terlupakan hingga akhir hayatku.

Saat bertemu, aku tak peduli.
Saat kau pergi, aku selalu menantimu.
Apakah ini namanya cinta?

Kau datang disaat keegoisan akan cinta tengah mendera.
Membawa cahaya dan kedamaian,
Membuatku tidak mudah menyerah untuk merengkuh kisah cinta bersamamu.

Dalam hati aku menanti,
Kuserahkan hati sebagai tanda ketulusan cinta.

Meski adakah cinta yang tulus setelah sekian lama lelah mencari.
Kapankah perjalanan ini kan berakhir?

Penderitaanku adalah bayangan gelap bagi dirimu,
Saat kesetiaan menjadi alasan untuk mencampakanku!
Aku takkan lari dari cintamu yang selalu memasungku.

Sesuatu yang terbesar dalam hidup ialah mengampuni orang yang menyakiti kita
Dan tetap mengasihinya.

Jangan pernah berkata selamat tinggal jika masih ingin mencoba.
Jangan pernah menyerah selama merasa masih dapat maju.
Jangan pernah berkata ya bila tidak menyukainya.

Untuk apa bicara cinta, jika hatimu tak terbuka.
Untuk apa bicara cinta, jika matamu tak bercahaya.
Untuk apa bicara cinta, jika hanya membuatmu menderita.
Bagiku, dirimu adalah Sang Cinta

Apakah arti cinta jika tidak saling mengerti satu sama lain.
Jika keegoisan yang muncul, itu bukanlah cinta.

Seseorang tak akan pernah menyadari dalamnya rasa cinta
Sampai tiba saat perpisahan.

Cinta bagaikan sepasang burung yang tumbuh melalui jiwa, rasa dan raga.
Cinta dapat dimiliki melalui perasaan dua hati.

Kuingin lebih mencintaimu sebelum saat lepaskan tubuhku.
Kuingin rasakan cintamu seutuhnya sebelum saat tinggalkan jiwaku.
Cumbuilah cintaku, belailah hatiku dan peluklah erat jiwaku untuk selamanya.

Cinta adalah saling memiliki.
Kasih sayang adalah saling memberi.
Cinta adalah kejujuran.
Mencintai bukan untuk saling menghianati.

Apakah cinta itu?
Hingga kini masih kunanti hadirnya di relung hatiku.

Cinta tak harus memiliki dan mencintai bukanlah menguasai.
Biarlah kumencintai dengan caraku sendiri.

Jangan sebut cinta abadi jika hanya ingin merasakannya.
Hiduplah cinta dan tinggallah di dalamnya maka cinta itu akan kekal.

Laksana kumbang yang terjebak dalam taman mawar berduri.
Leluasa menikmati tebaran keharumannya.
Namun tak kuasa untuk memetiknya.
Tak kuasa bebas dari belenggu duri.

Cinta tak harus memiliki tapi hanya bisa dirasakan.
Berpisah tak harus ada rasa benci.
Hanya cinta yang mampu mengatasinya.

Cinta dapat melahirkan kebahagiaan dan kebencian.
Cinta bukanlah segalanya.
Tak perlu berlebihan memperlakukannya.
Cintailah sang pencipta cinta.

Adakalahnya cinta datang tiba-tiba.
Adakalahnya cinta datang walau hanya sesaat.
Adakalahnya cinta datang hanya di bibir saja.
Tapi cintaku untuk selamanya, dan namamu terukir dilubuk hatiku.

Jika ditakdirkan untuk bersama,
Kutak ingin hanya janji dan kata setia.
Cinta butuh kepastian yanhg nyata.

Saat kutatap wajah sang malam.
Dirimu hadir dalam tatapan mataku.
Begitu lekat dalam hembusan bayu.
Serasa lembut nafasmu menyapu rinduku.

Sejak pertama bertemu, ada getar di hati walau hanya sekejap.
Saat saling mengenal telah membingkai kenangan manis.
Meski tak bisa bersama tapi bayangmu menghiasi hari –hariku.
Meskipun jarak memisahkan tapi rasa sayang tetap ada walau hanya di hati saja.

Untuk rembulan di sayab Jibril.
Aku selalu menanti di tepi kematianku.
Tapi aku tak kuat menanti lama dan mengubur rindu di pusara jiwaku.
Kubiarkan kerinduan itu mengembara, melayang dalam dimensi hening.
Kujaga aurora mata hati yang datang menyapaku

Cowok : Sepertinya malam ini terasa gelap sekali
Cewek : kenapa gitu bang
Cowok : karena bintangnya ada disisiku.

Jika aku disuruh memilih…
Untuk bernapas atau mencintaimu.
Aku akan menggunakan napas terakhirku untuk mengatakan “aku mencintaimu”

Jika ada 100 orang yang mencintai kamu pastilah aku salah satu dari mereka
Jika ada 10 orang yang mencintai kamu pastilah aku juga salah satu dari mereka
Jika tak ada 1 orang pun yang mencintai kamu pastilah saat itu aku sudah tidak ada di dunia, karena aku tidak bisa memilikimu

Cowok : eh jangan duduk deket bunga-bunga
Cewek : loh emang kenapa ?
Cowok : nanti bunga-bunganya layu
Cewek : kok bisa ?
Cowok : mereka layu karena mereka malu kalah cantik sama kamu

Cowok : kenapa malem ini gelap banget ya
Cewek : mendung kali bang
Cowok : kayaknya nggak dech
Cewek : trus napa bang
Cowok : soalnya bulannya sedang menerangi dan menemaniku disini

Cowok : bapak kamu maling ya?
Cewek : ih…..kow jahat si bapak ku dibilang maling kow gitu?
Cowok : iya soalnya kamu pintar banget mencuri hatiku

Lo tatap dia dengan penuh perasaan, trus ketika dia nanya “Lo kenapa sih?”
Lo tanya ke dia “Sakit ga sih?”
Cewek : Sakit kenapa?
Lo: Bidadari kaya lo, jatuh dr langit.. Sakit ga sih?

Cowok : Neng kamu capek gak?
Cewek : Hah? (bingung)
Cowok : Soalnya eneng berlari-lari terus di pikiran abang

paling enggak nyambung kamu tau gak..
Pemilu kemaren aku gak milih sby..
Tapi Aku milih kamu

Aku udah pernah jatuh dari jembatan,
aku udah pernah jatuh dari tangga.
Semuanya gak enak.
Tapi ada satu jatuh yang paling enak, yaitu jatuh
cinta sama kamu

Yank...
Rasa kangen aku sama kamu ibarat mencret...
Susah nahannya …

co : Akhirnya.. ketemu jg…
ce : ??? Ketemu apanya?
co : Tulang rusuk gw yg hilang…

cowok : boleh nanya nga?
cewek : nanya apaan?
cowok : bapak km dulu astronot yah?
cewek : ga tuh, emank knp?
cowok : AKU LIHAT BINTANG DIMATAMU

Co : Hei punya korek ga?
Ce : Ga punya..
Co : Klo nama punya kan?

Cowo : Mbak-mbak, maaf ya…
Cewe : Knapa?
Cowo : Minta tolong sebentar jangan bergerak…
Cewe : ?? Emang knapa mas? (Bingung karna ga kenal ama si cowo)
Cowo : Saya perlu bukti, jadi saya foto sebentar pake Handphone saya ya.. (cklik!! sambil ambil foto pake HP)
Cewe : ????? (tambah bingung) Bukti buat apa ya???
Cowo : Ngga Kmaren temen saya bilang ga ada tuh yang namanya “Cewek secantik bidadari”. Dengan foto ini saya mau tunjukin kalo dia salah.
Cewe : ???????? Oya? (Mukanya merah) Nama mas siapa?Selanjutnya terserah anda.

Tadi malam aku kirim bidadari untuk menjaga tidurmu. Eh, dia buru-buru balik. Katanya, 'Ah, masa bidadari disuruh jaga bidadari?

Aku tercipta hanya untuk mencintai dirimu
Dan izinkan aku untuk terus begitu.

Aku bersedia menjadi lilin,
Membakar diriku untuk menerangi dirimu.

Berpisah dengamu sedetik saja bagaikan 1000 tahun.
Untuk rayuan gombal ini jangan sampai si cewek tanya “emang umur lu berapa”

Seandainya kau adalah bunga,
biarkan diriku menjadi POT untuk menjagamu.

Lihat di sana sayang!
Matahari terbenam begitu indah, (sambil menatap pasangan)
Walau begitu, itu tak dapat menandingi keindahan dirimu.

Dunia ini hanya milik kita berdua sayang.
Yang lainnya hanya ngontrak
Jadul punya coy...

Tahu nggak say,
Aku kemarin nggak bisa bangun dari tidur karena terus memimpikanmu.
Dijamin sukses membuat cewek tersipu malu

Aku tidak bisa makan karena ingat kamu.
Aku tidak bisa mandi karena ingat kamu. Aku tidak bisa tidur karena ingat kamu.
Sudah umum sih tapi tingkat keberhasilannya itu lho! Mantap.

Walau aku tidak bisa berpuisi,
amun saat melihat tatap matamu,
Tiba-tiba aku menjadi seorang penyair BESAR yang selalu memujamu.
Ini Dari kasino warkop

Aku dengar bisikan angin sampaikan pesanmu padaku.
Aku rasakan tetesan embun sebagai lambang kasih sayangmu.
Kulihat pelangi hati sebagai gambaran cintamu padaku.
Kurasakan ketulusan, kejujuran, dan kesetiaanmu padaku.
Kini aku menyadari bila dirimu kau sangat sayang padaku.
Tapi semua terasa menjadi tiada indah tanpa dirimu.
Kan kujaga semua yang pernah kau berikan padaku, cinta.

Kukirimkan malam ini cinta suciku untukmu bersama hembusan angin teduh.
Kusalurkan kasih sayangku melalui pori-pori jiwaku,
untuk bekal tidur yang kau jenjang dalam dekapan kasih membelai jiwamu.

Saat pertama kali bertemu, dirimu selalu hadir dalam hatiku.
Waktu berjalan bersama bayangmu, inginnya selalu dekat denganmu.

Lembayung tergores kelam, menjelajah anganku pilu.
Getar kasihmu dalam badai,
Tinggalkan mimpi menuju harapan.
Adakah harapan itu untukku?

Bila bunga cinta gugur menyelubungi hatiku yang sepi dan pudar bersama cinta.
Tiada hal yang terindah selain cinta.
Cinta yang lahir dari hati.

Ingin meraih kembali cintamu menjadi kenyataan.
Saat diriku dalam siksaan cinta, dirimu melenggang pergi tanpa pernah memikirkanku.

Untuk apa berlari dalam kelam?
Sedang kabut pun tak mau menyibak.
Biarlah semua berlalu, mimpi pun aku tak ingin.
Meski rindu ini tercipta untukmu.

Adakah di hatimu terbesit satu harapan untuk berjanji selamanya bersamaku?
Andai dirimu berada disini untuk membuka kembali jalan cinta.
Ada rasa rindu disana yang mengisi relung hati.
Adakah rindu di hatimu seperti yang kurasakan?

Kutahu kau mencintaiku saat kulihat binar matamu bersinar saat menatapku, teduh dan hangat. Kutahu kaulah tempatku bersandar dan berlindung.

Mengapa harus berjumpa saat diriku telah berdua?
Ingin diriku lari dari kenyataan bersama hasratku bersamamu.
Namun kutak kuasa melawan sumpah yang telah terucap.

Cinta pandangan hati adalah anugerah.
Cinta yang tumbuh dari hati meninggalkan rasa sayang yang sangat mendalam.
Bila seseorang dapat merasakan cinta yang tumbuh dari hati,
Itulah yang disebut cinta sejati.

Ingin kututurkan kata demi kata,
Tentang perasaanku padamu.dirimu adalah cahaya dalam hatiku?
Semoga kita dapat bersatu.
Ketahuilah,
Cinta tak akan pernah sekalipun mengetahui tingkat kedalamannya,
Bila ia belum diterkam oleh perpisahan.

Aku datang atas nama cinta
Dan kini kau datang membawa putih cintamu yang begitu manis
Melekat dalam relung jiwaku.

Jika kegelapan menyembunyikan pepohonan dan bunga-bunga dari penglihatan kita.
Ia tidak akan menyembunyikan cinta dalam hati kita.

Andaikan saja aku berani berkata cinta.
Kini diriku merasa lelah memendam rasa.
Ingin kuungkapkan semua, meski tanpa akhir terindah.

Meski cinta tak terbalaskan,
tapi tetap akan kutunggu hingga engkau hanya memikirkanku seorang.

Cinta adalah misteri yang sulit dimengerti.
Cinta merupakan anugerah bagi insan manusia.
Cinta adalah kebahagiaan yang terpancar dalam diri seseorang, meski terkadang cinta juga meninggalkan rasa sakit.
Adakah cinta abadi?
Akankah cinta selalu bersemi?

Cinta berpuisi seribu makna.
Bertahun-tahun perjalanan cinta yang tak pernah terpisahkan oleh waktu dan jarak.

Berharap datangnya cinta bagai bunga di musim lalu,
dan mengharap turunnya hujan.
Kupercaya akan janji,
seperti kupercaya terbitnya matahari esok pagi.

Anganku tak berhenti bersajak.
Walau kutahu, kau tak pernah menganggap diriku ada,
Meski rasa letih mendera,
Aku tak akan pernah melepaskannya lagi.
Kau hanya mimpi yang tak akan menjadi nyata hingga segala rasa harus padam dan berakhir.
Kan selalu kurasakan hadirmu antara ada dan tiada.

Dingin angin malam membawa khayalan kian pasti.
Kugantung impian dan asa,
Dan aku berjanji tidak akan mengecewakan dirinya.

Mencintaimu setulus hati,
Mengarungi lautan untuk mendapatkan cinta suci.
Tak akan pernah menduakanmu walaupun terpisah jarak dan perbedaan.

Tak semua kata dapat terucap,
Lain di mulut lain di hati.
Suatu hari nanti, kau akan tahu,
Rasa cinta yang tersimpan.

Nikmatilah cinta dengan kasih putih,
Maka akan lahir cinta sejati.

Mengagumimu apa adanya dan menjadi inspirasi dalam hidupku.
Membangkitkan rasa cintaku menjadi tak terbatas.
Kini, kuserahkan diriku apa adanya.

Tak akan pernah tahu,
Kemana mata hati melangkah dan berpijak.
Sosokmu hanya banyang semu di hati.
Abadilah asa bersama mimpiku.

Sesaat mengenal telah menambah arti dalam hidupku.
Kudapatkan anugerah terindah di bulan penuh berkah.
Tanpa kata janji, hanya ungkapan cinta dan saling pecaya.
Berdua kita jelang masa depan bersama dalam satu cinta,
Abadi selamanya.

Rindu akan belaianmu, kasih sayang, dan ketegaranmu.
Walau semua itu t’lah berlalu,
Tapi takkan pernah terlupakan hingga akhir hayatku.

Saat bertemu, aku tak peduli.
Saat kau pergi, aku selalu menantimu.
Apakah ini namanya cinta?

Kau datang disaat keegoisan akan cinta tengah mendera.
Membawa cahaya dan kedamaian,
Membuatku tidak mudah menyerah untuk merengkuh kisah cinta bersamamu.

Dalam hati aku menanti,
Kuserahkan hati sebagai tanda ketulusan cinta.

Meski adakah cinta yang tulus setelah sekian lama lelah mencari.
Kapankah perjalanan ini kan berakhir?

Penderitaanku adalah bayangan gelap bagi dirimu,
Saat kesetiaan menjadi alasan untuk mencampakanku!
Aku takkan lari dari cintamu yang selalu memasungku.

Sesuatu yang terbesar dalam hidup ialah mengampuni orang yang menyakiti kita
Dan tetap mengasihinya.

Jangan pernah berkata selamat tinggal jika masih ingin mencoba.
Jangan pernah menyerah selama merasa masih dapat maju.
Jangan pernah berkata ya bila tidak menyukainya.

Untuk apa bicara cinta, jika hatimu tak terbuka.
Untuk apa bicara cinta, jika matamu tak bercahaya.
Untuk apa bicara cinta, jika hanya membuatmu menderita.
Bagiku, dirimu adalah Sang Cinta

Apakah arti cinta jika tidak saling mengerti satu sama lain.
Jika keegoisan yang muncul, itu bukanlah cinta.

Seseorang tak akan pernah menyadari dalamnya rasa cinta
Sampai tiba saat perpisahan.

Cinta bagaikan sepasang burung yang tumbuh melalui jiwa, rasa dan raga.
Cinta dapat dimiliki melalui perasaan dua hati.

Kuingin lebih mencintaimu sebelum saat lepaskan tubuhku.
Kuingin rasakan cintamu seutuhnya sebelum saat tinggalkan jiwaku.
Cumbuilah cintaku, belailah hatiku dan peluklah erat jiwaku untuk selamanya.

Cinta adalah saling memiliki.
Kasih sayang adalah saling memberi.
Cinta adalah kejujuran.
Mencintai bukan untuk saling menghianati.

Apakah cinta itu?
Hingga kini masih kunanti hadirnya di relung hatiku.

Cinta tak harus memiliki dan mencintai bukanlah menguasai.
Biarlah kumencintai dengan caraku sendiri.

Jangan sebut cinta abadi jika hanya ingin merasakannya.
Hiduplah cinta dan tinggallah di dalamnya maka cinta itu akan kekal.

Laksana kumbang yang terjebak dalam taman mawar berduri.
Leluasa menikmati tebaran keharumannya.
Namun tak kuasa untuk memetiknya.
Tak kuasa bebas dari belenggu duri.

Cinta tak harus memiliki tapi hanya bisa dirasakan.
Berpisah tak harus ada rasa benci.
Hanya cinta yang mampu mengatasinya.

Cinta dapat melahirkan kebahagiaan dan kebencian.
Cinta bukanlah segalanya.
Tak perlu berlebihan memperlakukannya.
Cintailah sang pencipta cinta.

Adakalahnya cinta datang tiba-tiba.
Adakalahnya cinta datang walau hanya sesaat.
Adakalahnya cinta datang hanya di bibir saja.
Tapi cintaku untuk selamanya, dan namamu terukir dilubuk hatiku.

Jika ditakdirkan untuk bersama,
Kutak ingin hanya janji dan kata setia.
Cinta butuh kepastian yanhg nyata.

Saat kutatap wajah sang malam.
Dirimu hadir dalam tatapan mataku.
Begitu lekat dalam hembusan bayu.
Serasa lembut nafasmu menyapu rinduku.

Sejak pertama bertemu, ada getar di hati walau hanya sekejap.
Saat saling mengenal telah membingkai kenangan manis.
Meski tak bisa bersama tapi bayangmu menghiasi hari –hariku.
Meskipun jarak memisahkan tapi rasa sayang tetap ada walau hanya di hati saja.

Untuk rembulan di sayab Jibril.
Aku selalu menanti di tepi kematianku.
Tapi aku tak kuat menanti lama dan mengubur rindu di pusara jiwaku.
Kubiarkan kerinduan itu mengembara, melayang dalam dimensi hening.
Kujaga aurora mata hati yang datang menyapaku

Cowok : Sepertinya malam ini terasa gelap sekali
Cewek : kenapa gitu bang
Cowok : karena bintangnya ada disisiku.

Jika aku disuruh memilih…
Untuk bernapas atau mencintaimu.
Aku akan menggunakan napas terakhirku untuk mengatakan “aku mencintaimu”

Jika ada 100 orang yang mencintai kamu pastilah aku salah satu dari mereka
Jika ada 10 orang yang mencintai kamu pastilah aku juga salah satu dari mereka
Jika tak ada 1 orang pun yang mencintai kamu pastilah saat itu aku sudah tidak ada di dunia, karena aku tidak bisa memilikimu

Cowok : eh jangan duduk deket bunga-bunga
Cewek : loh emang kenapa ?
Cowok : nanti bunga-bunganya layu
Cewek : kok bisa ?
Cowok : mereka layu karena mereka malu kalah cantik sama kamu

Cowok : kenapa malem ini gelap banget ya
Cewek : mendung kali bang
Cowok : kayaknya nggak dech
Cewek : trus napa bang
Cowok : soalnya bulannya sedang menerangi dan menemaniku disini

Cowok : bapak kamu maling ya?
Cewek : ih…..kow jahat si bapak ku dibilang maling kow gitu?
Cowok : iya soalnya kamu pintar banget mencuri hatiku

Lo tatap dia dengan penuh perasaan, trus ketika dia nanya “Lo kenapa sih?”
Lo tanya ke dia “Sakit ga sih?”
Cewek : Sakit kenapa?
Lo: Bidadari kaya lo, jatuh dr langit.. Sakit ga sih?

Cowok : Neng kamu capek gak?
Cewek : Hah? (bingung)
Cowok : Soalnya eneng berlari-lari terus di pikiran abang

paling enggak nyambung kamu tau gak..
Pemilu kemaren aku gak milih sby..
Tapi Aku milih kamu

Aku udah pernah jatuh dari jembatan,
aku udah pernah jatuh dari tangga.
Semuanya gak enak.
Tapi ada satu jatuh yang paling enak, yaitu jatuh
cinta sama kamu

Yank...
Rasa kangen aku sama kamu ibarat mencret...
Susah nahannya …

co : Akhirnya.. ketemu jg…
ce : ??? Ketemu apanya?
co : Tulang rusuk gw yg hilang…

cowok : boleh nanya nga?
cewek : nanya apaan?
cowok : bapak km dulu astronot yah?
cewek : ga tuh, emank knp?
cowok : AKU LIHAT BINTANG DIMATAMU

Co : Hei punya korek ga?
Ce : Ga punya..
Co : Klo nama punya kan?

Cowo : Mbak-mbak, maaf ya…
Cewe : Knapa?
Cowo : Minta tolong sebentar jangan bergerak…
Cewe : ?? Emang knapa mas? (Bingung karna ga kenal ama si cowo)
Cowo : Saya perlu bukti, jadi saya foto sebentar pake Handphone saya ya.. (cklik!! sambil ambil foto pake HP)
Cewe : ????? (tambah bingung) Bukti buat apa ya???
Cowo : Ngga Kmaren temen saya bilang ga ada tuh yang namanya “Cewek secantik bidadari”. Dengan foto ini saya mau tunjukin kalo dia salah.
Cewe : ???????? Oya? (Mukanya merah) Nama mas siapa?Selanjutnya terserah anda.

Tadi malam aku kirim bidadari untuk menjaga tidurmu. Eh, dia buru-buru balik. Katanya, 'Ah, masa bidadari disuruh jaga bidadari?

Aku tercipta hanya untuk mencintai dirimu
Dan izinkan aku untuk terus begitu.

Aku bersedia menjadi lilin,
Membakar diriku untuk menerangi dirimu.

Berpisah dengamu sedetik saja bagaikan 1000 tahun.
Untuk rayuan gombal ini jangan sampai si cewek tanya “emang umur lu berapa”

Seandainya kau adalah bunga,
biarkan diriku menjadi POT untuk menjagamu.

Lihat di sana sayang!
Matahari terbenam begitu indah, (sambil menatap pasangan)
Walau begitu, itu tak dapat menandingi keindahan dirimu.

Dunia ini hanya milik kita berdua sayang.
Yang lainnya hanya ngontrak
Jadul punya coy...

Tahu nggak say,
Aku kemarin nggak bisa bangun dari tidur karena terus memimpikanmu.
Dijamin sukses membuat cewek tersipu malu

Aku tidak bisa makan karena ingat kamu.
Aku tidak bisa mandi karena ingat kamu. Aku tidak bisa tidur karena ingat kamu.
Sudah umum sih tapi tingkat keberhasilannya itu lho! Mantap.

Walau aku tidak bisa berpuisi,
amun saat melihat tatap matamu,
Tiba-tiba aku menjadi seorang penyair BESAR yang selalu memujamu.
Ini Dari kasino warkop

Aku dengar bisikan angin sampaikan pesanmu padaku.
Aku rasakan tetesan embun sebagai lambang kasih sayangmu.
Kulihat pelangi hati sebagai gambaran cintamu padaku.
Kurasakan ketulusan, kejujuran, dan kesetiaanmu padaku.
Kini aku menyadari bila dirimu kau sangat sayang padaku.
Tapi semua terasa menjadi tiada indah tanpa dirimu.
Kan kujaga semua yang pernah kau berikan padaku, cinta.

Kukirimkan malam ini cinta suciku untukmu bersama hembusan angin teduh.
Kusalurkan kasih sayangku melalui pori-pori jiwaku,
untuk bekal tidur yang kau jenjang dalam dekapan kasih membelai jiwamu.

Saat pertama kali bertemu, dirimu selalu hadir dalam hatiku.
Waktu berjalan bersama bayangmu, inginnya selalu dekat denganmu.

Lembayung tergores kelam, menjelajah anganku pilu.
Getar kasihmu dalam badai,
Tinggalkan mimpi menuju harapan.
Adakah harapan itu untukku?

Bila bunga cinta gugur menyelubungi hatiku yang sepi dan pudar bersama cinta.
Tiada hal yang terindah selain cinta.
Cinta yang lahir dari hati.

Ingin meraih kembali cintamu menjadi kenyataan.
Saat diriku dalam siksaan cinta, dirimu melenggang pergi tanpa pernah memikirkanku.

Untuk apa berlari dalam kelam?
Sedang kabut pun tak mau menyibak.
Biarlah semua berlalu, mimpi pun aku tak ingin.
Meski rindu ini tercipta untukmu.

Adakah di hatimu terbesit satu harapan untuk berjanji selamanya bersamaku?
Andai dirimu berada disini untuk membuka kembali jalan cinta.
Ada rasa rindu disana yang mengisi relung hati.
Adakah rindu di hatimu seperti yang kurasakan?

Kutahu kau mencintaiku saat kulihat binar matamu bersinar saat menatapku, teduh dan hangat. Kutahu kaulah tempatku bersandar dan berlindung.

Mengapa harus berjumpa saat diriku telah berdua?
Ingin diriku lari dari kenyataan bersama hasratku bersamamu.
Namun kutak kuasa melawan sumpah yang telah terucap.

Cinta pandangan hati adalah anugerah.
Cinta yang tumbuh dari hati meninggalkan rasa sayang yang sangat mendalam.
Bila seseorang dapat merasakan cinta yang tumbuh dari hati,
Itulah yang disebut cinta sejati.

Ingin kututurkan kata demi kata,
Tentang perasaanku padamu.dirimu adalah cahaya dalam hatiku?
Semoga kita dapat bersatu.
Designed by Animart Powered by Blogger